LORONG KOTA
Lorong gelap diantara deretan pertokoan di kota ini sudah ribuan kali aku lewati, bahkan aku sudah hapal setiap lekukkan, got kotor yang hitam pekat dipenuhi oleh sampah dan lubang yang menganga yang belum tersentuh perbaikan oleh dinas perbaikan kota.
sesekali aku berpaspasan dengan pejalan kaki, dan seperti biasanya mereka seolah takut, atau lebih tepatnya merasa jijik ketika melihat aku, aku sudah tidak perduli dengan hal ini, tubuh kumalku dan baunya aroma tubuhku yang muncul dari beberapa luka di hampir setiap tubuhku mungkin penyebab utama dari reaksi setiap orang yang melihat aku.
Dulu kota ini sangat indah, rindang pohon hampir menghiasi sepanjang jalan protokol, saluran air got mengalir tanpa ada hambatan sampah yang menyumbat lajunya air, jalan-jalan di sepanjang kita ini rapih tanpa ada lubang yang menganga, taman dengan pot-pot yang berisi bunga seakan menambah sejuknya kota ini.
Kini keadaanya berbalik seratus delapan puluh derajat.
Setiap orang di kota ini keranjingan permainan mengejar bola, yang dilakukan orang-orang, dan di tonton oleh ribuan orang atau bahkan lebih.
Aku tidak pernah mengerti mereka, ketika mereka berteriak “Hidup kita menang...Hidup kita menang..! atau tatkala mereka berteriak-teriak memaki entah kepada siapa, tangan mereka pun ikut sibuk, hampir setiap akhir dari permainan mengejar bola, pot-pot ditaman mereka hancurkan, lampu-lampu jalan mereka lempari hingga pecah berantakan.
Tragisnya..!, suatu waktu aku terkena lemparan batu, lukanya hingga kini masih berbekas di pelipisku.
Disudut lain kota ini, tampak ramai, sayup-sayup terdengar musik dari dalam gedung yang sesak di jejali orang.
Orang-orang banyak lalu lalang di sudut kota ini, aku tidak lagi berani untuk melewati daerah itu, mungkin hanya sesekali saja, itupun aku hanya memandang dari kejauhan, hanya untuk melepas rasa rindu akan kenangan masa kecilku dulu disudut kota ini.
Tentu memori yang indah, tempat dimana aku dilahirkan, dibesarkan bersama kakak dan dua adikku serta Bapak dan ibuku, tempat aku bermain bersama teman-temanku. Terkadang aku meneteskan air mata jika mengenang mereka semua, aku sering menjerit melolong jika mengingat mereka, yang entah keberadaanya sekarang dimana.
Ingin rasanya aku berteriak dihadapan orang-orang itu, memberitahu mereka, memberi sedikit ingatan kepada mereka, betapa dulu disudut kota ini, tepat di gedung-gedung yang hingar bingar oleh musik itu, pernah berdiri deretan rumah yang asri, bahkan di hotel melati itu dulu adalah bangunan Mesjid, tempat orang-orang beribadah.
Kini... Ya Tuhan Ku, lihat gedung yang dihiasi lampu dengan beraneka warna itu, entah musik apa yang sedang dimainkan, entah jenis musik apa yang mereka dengarkan, orang-orang datang dengan berpakaian setengah telanjang masuk kedalam gedung itu, ada anak ramaja, tante-tante, bapak-bapak dan masih banyak lagi, beberapa orang yang keluar dari gedung itu, berjalan sempoyongan bahkan beberapa diantara mereka muntah-muntah sambil meracau tak jelas apa yang sedang dikatakannya. Para ABG dari anak sekolahan banyak sekali berkumpul di tempat ini, berbeda sekali cara berpakaian mereka pada siang hari dengan malam hari, ya karena aku sering melihat para remaja itu ketika mereka akan berangkat sekolah.
Hotel melati di seberang jalan itu, ya.. Pernah aku mengintip kedalam hotel itu, meski besar resiko yang harus aku ambil. itupun karena aku penasaran, karena beberapa waktu lalu ada seorang laki-laki yang mati didalam hotel itu, beritanya aku lihat sendiri di televisi dan hampir setiap saat semua station televisi menyiarkannya, yang katanya dia adalah salah satu pejabat di kota ini.
Ketika aku melihat kedalam, Ya Tuhaan... hampir semua orang di setiap kamar di hotel itu, dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menempel di tubuh mereka, aku yakin mereka adalah bukan pasangannya, jijik, sedih aku melihatnya, sikap mereka tak ubahnya seperti binatang.
Meski tidak aku pungkuri aku pun seperti mereka, ya berganti pasangan memang keahlianku dulu, tapi..! bukan-bukan itu yang membuatku sedih, jijik, karena seharusnya mereka tidak seperti aku, karena memang aku dan mereka adalah Beda, sangat beda.
Aku berlari, berangsur pergi meninggalkan tempat itu, menyusuri kembali lorong gelap yang sudah ribuan kali aku lewati, berteriak aku... melolong aku... tidak akan ku datangi lagi tempat itu janjiku, hingar bingar musik masih terdengar sayup ditelingaku.
Perlahan ku hentikan laju lariku, terengah aku, sampai akhirnya langkahku benar-benar terhenti, ya satu hal lagi tentang kota ini yang berubah, kedamaian, keamanan, ketenangan seakan sudah raib dari kota ini.
Tepat didepanku berdiri, dua sosok manusia sedang berusaha masuk kedalam sebuah rumah, namun cara mereka masuk yang tidak lazim itu, yang membuatku geram, kedua orang itu berusaha mencongkel teralis jendela rumah itu.
Kuhampiri mereka, kuteriaki mereka, kumaki mereka. Mereka terkejut akan kedatanganku, sesaat mereka terdiam menatapku, namun tiba-tiba, sebilah pisau tertancap di tanganku, disusul dengan benturan balok kayu tepat mengenai perutku.
Aku menjerit kesakitan, aku melolong berlari menjauh, sekilas kulihat lampu didalam rumah tersebut menyala, syukurlah ujarku.
luka ditubuhku bertambah lagi, aku berjalan terseok-seok, rumah yang kutuju tinggal dua blok lagi, memang bukan seperti rumah yang dibayangkan, bahkan lebih tepatnya hanya sebuah gubuk reyot.
Pandanganku sudah mulai kabur, nanar aku melihat kesekeliling, kakiku sudah tidak sanggup lagi menahan bobot badanku, aku ambruk tepat didepan rumahku, oh syukurlah, sekilas aku melihat orang yang sangat kukenal, orang yang sangat menyayangiku, orang yang selama ini mau menampungku, memberiku makan, minum, dan tempat aku untuk berlindung.
Ya dialah majikanku, di belainya aku, dibisikannya namaku “Bleki, apa yang terjadi dengan mu” ujarnya, aku mengibaskan ekorku, kujilaat tangannya sesaat sebelum mataku tertutup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar