Rabu, 22 Juni 2011

Priscilla

Priscilla tersenyum sendiri di depan komputernya, rona  merah menghiasi seluruh wajahnya. Semenjak pulang kuliah tadi sore Priscilla belum beranjak dari depan komputernya jangankan untuk pergi makan malam, kegiatan yang biasa membuat setiap orang akan kelabakan apabila dia datang, Priscilla dengan tenang membuangnya begitu saja dalam kantong plastik.
 "ihh jijik..",ujar si mbok yang tiba-tiba masuk kamar sambil menutup hidungnya, "Non Priscilla kok buang anunya disitu sich..?, Kan bau." Lanjut si Mbok, tapi nggak ada respon dari Priscilla malahan dia makin terhanyut dengan apa yang sedang dilakukannya, kadang-kadang tersenyum, kadang manyun, kadang nungging dan kadang-kadang ketawa cekikikan."Ihh, Serem amet…", ujar si mbok sambil berlalu ketakutan.
"Itu tandanya lu lagi jatuh cinta Sil,..!" kata Vitria, setelah Sisil panggilan sayang Priscilla menceritakan semua unek-uneknya, "Ala, lu nggak usah sok puitis dech Ria, .." "tunggu dulu Sil, buktinya  kalo elu  nggak lagi jatuh cinta mana mungkin lu 'nggak bisa tidur gara-gara lu kemarin diperhatiin sama si Pras" potong Ria panggilan sayang Vitria, wajah Sisil berubah warna dari hitam ke putih terus ungu kemudian kuning dan terakhir wajahnya berubah menjadi merah merona "ihh, gila wajah lu berubah-ubah warna gitu kayak bunglon , Sil". "Sialan lu ngatain gua bunglon,…"Sisil mencubit paha Ria dengan penuh perasaan,
"Gini Ria maksud gua, apa gua cocok kalo jalan sama si Pras…" "Tuh…tuh akhirnya ngaku sendirikan " potong Ria, "Wah, bakal menjadi gosip terpanas musim ini,..Hai teman -te Blpppp Blpppp.." Sisil membukam mulut Ria, dengan sandal japit yang dipakainya.
Mendung sore ini tidak semendung hati Priscilla, di wajahnya yang putih itu selalu tersungging sebuah senyum, senyum yang paling manis yang pernah Priscilla keluarkan, Priscilla nggak peduli mau orang kek, mau tiang listrik kek pokoknya siapa aja yang ada didepannya pasti dikasih senyum mautnya. Sampai-sampai si Abang tukang sayur langganannya tersenyum ke geer-an ketika Priscilla nyampe di depan rumahnya dan terus tersenyum pada si abang sayur, apalagi si Abang emang udah lama naksir berat sama Priscilla, tapi Priscilla cuek aja lagi.
 "Bodo amat, mau naksir mau nggak yang penting gua dapat sayur gratis, lagian emang gua pikirin" katanya suatu saat pada Vitria, yang repot sekarang adalah si Abang dengan penuh kegirangan karena mendapat senyum spesial Priscilla, dia membagikan dagangannya kepada para ibu-ibu PKK yang mengelilinginya sambil matanya tak lepas dari Priscilla"ayo..ayo, sekarang gratis 'nggak usah repot-repot beli,.. tapi besok dibayar yach..!" seru si Abang. Parahnya lagi Priscilla bukannya menghentikan aksi senyumnya itu, malahan makin sengaja memamerkan barisan giginya yang putih bersih mingkilat kayak iklan pasta gigi di televisi.
Malam minggu merupakan malam yang panjang menurut segelintir orang, banyak muda-mudi keluar hanya untuk sekedar melepaskan rasa penat yang dirasakan setelah satu minggu lamanya mereka berkutat dengan berbagai aktivitas.
Namun ini merupakan malam minggu yang kesekian bagi Priscilla yang merupakan malam minggu yang sangat sepi dan sunyi, alunan musik yang dibawakan koesplus terdengar hawar-hawar dari sebuah mini compo di sudut kamarnya, sementara Priscilla sendiri tengah terpekur diatas tempat tidur wajahnya memancarkan sebuah penantian akan munculnya suatu keajaiban, matanya menerawang jauh entah kemana.
Emang semenjak Priscilla Putus dari pacarnya yang dulu sampai sekarang dia belum ada yang mampu mengisi hatinya dan mengganti tempat Agung mantan pacarnya dulu, di hati yang paling dalamnya, perasaan suka kepada cowok susah Priscilla dapatkan lagi padahal banyak cowok yang antri untuk mendapatkan secercah kasih sayang dan harapan dari dirinya, namun dengan tegas Priscilla berkata seperti bapak satpam di sebuah perusahaan besar "Sooorrryyyyy 'nggak ada lowongan, mas", maka mereka pun pulang dengan tangan hampa tanpa membawa hasil, 'nggak sedikit cowok-cowok yang di tolak Priscilla menjadi penghuni RSJ.
Namun entah apa yang terjadi ketika dia pertama melihat Pras hatinya langsung berdebar-debar 'nggak karuan seakan-akan menghapus mitos yang selama ini menggelayuti dirinya bahwa dia anti dengan yang namanya cowok "Apa sich yang lu suka dari Pras, Sil ?" tanya Vitria suatu saat "Pokoknya semuanya dech " jawab Priscilla "Terutama rambut panjangnya, mengingatkan gua pada pemain film Renegade, film kesukaan gua" lanjut Priscilla sambil menerawang jauh.  
"Tok…tok..", Priscilla dikagetkan oleh suara pintu yang diketuk dari luar "siapa ?" tanyanya, "bibik, Non…" jawab si mbok dibalik pintu "hmmm…Iya, ada apa bik ?"tanya Priscilla kembali, "Huh..Nggak boleh orang lagi seneng gangguin aja", gerutu Priscilla dalam hati sambil beranjak membuka pintu.
" Anu non, ada temennya nunggu dibawah" kata si mbok "Siapa bik ?" tanya Priscilla "Nggak tau bibik belum nanyain, non" " ya sudah, tunggu sebentar gitu!, Priscilla ganti pakaian dulu ".
Priscilla keluar dari kamarnya dengan langkah malas-malas "Siapa sih malam-malam begini datang, nggak tau kali gua lagi BT " gerutunya, sampai di tangga Priscilla mengintip keruang tamu "Ya Tuhan ,….Pras!", serunya dalam hati, kaget melihat tamu yang duduk percis menghadap kearahnya itu.
"Mau ngapain dia da….., oh ya Tuhan apakah  dia datang untukku atau..", "non kok malah berdiri disini sich?", tiba-tiba si mbok sudah berdiri di depannya "eh..nggak bik ", jawab Priscilla sambil berjalan turun menuju ruang tamu.
"Hai..!, tumben datang kesini ?" tanya Priscilla basa basi "Ya Tuhan berilah aku kekuatan" gumannya dalam hati "Ah…nggak ada apa-apa kok cuman main saja, Nggak mengganggukan?" kata Pras balik bertanya, "Huh makin keren aja nich anak mana rambutnya di iket kebelakang lagi, makin percis pemain film Renegade itu",ujar Priscilla dalam hati.
"Hallo…ditanya kok malah melamun gitu sich !" seru Pras sambil mengibaskan tangan kirinya di depan wajah Priscilla "eh..anu, apa tadi pertanyaannya?"kata Priscilla panik ketahuan bahwa dirinya sedang melamun "nggak mengganggukan Sil, gua datang kesini?" ulang Pras tentang petanyaannya tadi. Priscilla hanya menggelengkan kepalanya wajahnya merah merona kayak strawbery matang.
Pertamanya, mereka berdua berbicara sangat kaku sekali, namun lama-kelamaan akhirnya obrolan menjadi lancar dan mengalir begitu saja dari bibir mereka, bagaikan aliran sungai Nil di India. Dari obrolan tentang kampus, politik, musik, makanan, sampai nomer sepatu dan nomer baju, yang ngga di omomngin cuman nomor baju dalaman aja.
Priscilla sangat senang sekali ternyata malam minggunya dimulai dari sekarang tidak akan sesunyi dulu. terpancar diwajahnya sinar kegembiraan.
"Sil sebenarnya maksud kedatangan gua ke sini mau eeeeh …."kata Pras terbata-bata "mau apa sich…?", tanya Priscilla penasaran dadanya berdegup kencang keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, begitu pula dengan Pras "hmmm…anu Sil, tapi lu janji nggak bakalan marah ya" kata Pras sambil mengacungkan kedua jarinya.
"ngapain gua mesti marah, mau apa sich ?, lu jangan membuat gua penasaran gitu donk Pras.." jawab Priscilla, ada nada getar dalam suaranya. Wajahnya kembali berubah-ubah warna kayak bunglon, "ayo dong ngomong …!" "Ok, tapi janji lu nggak bakalan marah" Priscilla menganggukkan kepalanya. "Sil, sebenarnya dari dulu gua tuh…." "byurrrrr…." Tiba-tiba Priscilla meraskan baju nya basah semua tersiram oleh air yang tumpah dari minuman yang di bawa si mbok. "Aduh non maaf nggak sengaja " Priscilla melotot kearah si mbok namun samar- samar terdengar suara Vitria "hoy…b..a..n..g..u..n" dan suara itu makin jelas terdengar "hei.. Bangun  udah siang nich.." Priscilla membuka kedua matanya Tampak Vitria sedang tersenyum kegelian, sementara ditangan kanannya terdapat gelas cangkir berisi air putih.
"ayo bangun Udah siang nich!" saru Vitria sambila ketawa "ah sialan lu, ngeganggu mimpi indah gua aja " sungut Priscilla penuh dengan rasa kecewa yang sangat mendalam."habis gua kawatir lu tidur dari tadi ngigau terus sich ya udah gua siram aja pakai air minum biar bangun sekalian" lanjut Vitria sambil terus ketawa "hmm…yang lagi kasmaran, dalam mimpinya pun selalu disebut-sebut”. Priscilla kesal di lemparnya Vitria dengan boneka micky mouse besar "Sialan Lu".
"Waduh, kirain gua, gua kesiangan nih..! "ujar Ryan dan Darma hampir bersamaan, lalu keduanya menghempaskan diri di kursi ,"Emang lu pada,  habis dari mana dulu sich ?, sampai ngos-ngosan gitu" tanya Vitria "Biasa, musisi mah mesti banyak kegiatan, belum lagi fans yang ngejar-ngejar gua" kata Darma kalem,"Musisi nyasar kali" sela Priscilla.
"Hai.., Pras sini !" seru Ryan, "Busyet dah, kemana aja sih lu, gua cari-cari kemana-mana 'nggak ada, kayak ajudan presiden aja lu ? " tanya Ryan "Sorry Ryan, gua baru pulang dari Yogyakarta nenek gua sakit."jawab Pras, "Tadinya gua cuman tiga hari disana,  tapi temen gua waktu  kecil, ngajak jalan-jalan dulu ya udah, gua 'nggak bisa nolak" " 'nggak masalahnya bukan gua aja yang nyariin elu, Pras. Tuh si Priscilla juga nyariin elu, bener 'nggak Sil..?" Priscilla salah tingkah mendengar ucapan Ryan tadi, wajahnya kembali berubah-ubah warna kayak bunglon, Untung si Ryan sama si Darma 'nggak memperhatikan perubahan warna di wajah Priscilla, kalo mereka ngelihat wah bisa abis deh Sisil diledekin, " Aah, Bisa aja lu" ujar Pras, Ryan dan Darma hanya nyengir saja "Udah ah, tinggal dulu, gua pingin buang air kecil mumpung si bapaknya belum datang".
"He..Ryan lu tau dari mana ?" tanya Vitria, setelah Pras pergi "Tau apaan, tahu tempe, banyak tuh ditukang sayur"Jawab Ryan seenaknya, "Anu, lu kok tau kalo si Sisil nanyain si Pras?" "Hah, Apa?, Jadi lu…Ha.ha.ha" Ryan 'nggak melanjutkan kalimatnya "Wah, bakal seru nich..!" seru Darma sambil tertawa kencang "Gosip baru….Gosip baru" ujar Darma dan Ryan sambil beranjak pergi.
"Waduh mati gua deh, lu kenapa bilang sama dua coro itu sich, Ria" Kata Priscilla kesal, baginya hal ini apabila sudah diketahui dua mahluk yang hiperaktiv itu merupakan kiamat bagi hidupnya, bagaimana tidak siapa yang 'nggak kenal sama dua makhluk yang namanya Ryan dan Darma itu. Sepak terjangnya di dunia keusilan sudah nggak tertandingi oleh siapapun.
"Sorry Sil, Sorry, gua kira si Ryan sama si Darma udah tau kalo lu suka sama si Pras " Ujar Ria merasa bersalah, "lagian ngapain gua ngasih tau mereka berdua, itu namanya bunuh diri, Ria…bunuh diri…,oh apa kata dunia kalo seluruh orang tau bahwa Priscilla Puspita Sari, putri seorang pengusaha tempe, menyukai Pras musisi kelas yang……." "Ha..ha.. jadi bener lu suka sama si Pras" tiba-tiba Darma nongol 'nggak tau datangnya dari mana, sampai-sampai wajah Sisil berubah-ubah warna kembali layaknya bunglon.
"Santai Sil, santai gua berdua janji 'nggak akan ngomong ke si Pras kalo lu suka sama dia, pokoknya sebelum gua di suruh sama lu , gua nggak akan ngomong macam-macam dech" ujar Darma "Dan yang pasti elo bakalan gua dukung penuh, Sil…hmm maksud gua ya sampai lu jadian sama dia tapi, gua nggak janji muluk-muluk loh, itu juga kalo bisa, dan yang pasti segala sesuatu itu mesti ada imbalannya deh, nah gua nggak minta macam-macam cukup baso tahu kegemaran gua sama si Ryan di kantin Ok..!", lanjut Darma panjang lebar sambil ngeloyor pergi, Priscilla hanya nyengir kuda dan Vitria nyengir kambing melihat kedua makhluk itu pergi.
Hari demi hari telah berlalu, minggu ke minggu datang silih berganti perasaan Priscilla terhadap Pras semakin menggebu-gebu dan menderu-deru layaknya deru ombak di lautan. Memang Ryan dan Darma masih menepati janjinya untuk tidak mengatakan pada Pras bahwa dirinya suka padanya, tapi kejadiannya lebih parah lagi hampir setiap orang  dikelasnya mengetahuinya sampai-sampai Yanyan sipendiam ngomong "Iih, Priscilla ternyata kamu ada kemajuan yach, ceritain donk ke Yanyan kejadiannya, sampai Sisil jatuh bangun membanting tulang, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala …akrobat kali..hi..hi..hi, lalu kepincut sama si  Pras !" seru Yanyan sambil ketawa cekikikan. Makin aja Priscilla sebel pada mereka berdua. Tapi yang membuat Priscilla aneh, kok Pras belum tau juga padahal seisi kelas sudah hampir tau semua, untuk urusan yang satu ini Priscilla salut pada dua makhluk itu.
"Hayo…ngelamun aja!" tiba-tiba Vitria nongol dibelakangnya "sialan lu, ngagetin gua aja" "Habis dari tadi gua ketuk-ketuk pintu kamar 'nggak ada yang membuka, ya udah gua nyelonong aja masuk, eh taunya tuan putri lagi ngelamun didepan komputer, sambil cengengesan lagi" ujar Vitria, "Gua bukannya lagi melamun non, gua lagi mikirin tugas dari Mr Yayat sikiller dari goa hantu, habis susah banget" bantah Priscilla "Ah, 'nggak mungkin kalo lu lagi mikir Sil, masa mikir sambil cengar-cengir kayak gitu" kata Vitria "Udah 'nggak usah di pikirin, lagian si Pras 'nggak bakalan lari kemana-mana, jadi jerawat batu tau rasa lu" lanjur Vitria sambil menghempaskan  tubuhnya keatas kasur "Wah lama-lama lu kayak si dua coro itu, Ria" "Sory..sory, masa gitu aja marah" seru Vitria "Eh, jadi 'nggak pergi ke kost-an si Ryan ?" tanya Vitria "habis gua udah nyerah sama tugas yang satu ini Sil, susah buanget sich" "ya jadi donk, ah" jawab Priscilla "Hm.. sebenarnya  gua males pergi kesana  Ria, tapi mau apa lagi , kalo 'nggak penting-penting bangetmah mendingan gua di rumah aja…""ngelamunin si Pras" potong Vitria, Priscilla melotot.
"Wah … kalian datangnya kepagian non" seru Ryan, "Gua belum mandi nich, ya udah lu masuk aja  gua mandi dulu, Ok 'nggak lama kok" lanjut Ryan " kalo mau kue ambil aja di warung depan tapi jangan lupa di bayar ya, habis rekening gua udah numpuk di si Ibu warung, dan kalo bisa rekening gua tolong lu bayarin, mumpung gua lagi baik nih membuka ladang amal buat kalian", Vitria melotot, Priscilla merem nahan sakit karena kakinya keinjak Vitria.
"Sil, sini deh bentar" ajak Ryan setelah selesai mengerjakan tugas "ada apa ?" "lu jangan marah dulu ya karena ini merupakan kabar gembira buat lu, itu juga kalo lu mau denger" "Boleh, asal lu 'nggak macam-macam gua nggak bakalan marah deh"  "Gua udah ngomong sama si Pras …" "Apaaaa.." potong Priscilla "Eit, dengerin dulu. maksud gua,  gua udah ngomong ke si Pras kalo dikelas ada yang ngecengin dianya.." "terus ! " seru Vitria ikut nimbrung "Terus dia nanya, siapa. Gua bilang kayaknya elo 'nggak usah tau dulu deh saat ini, masalahnya gua udah keiket kontrak sama yang ngecengin elo" "terus…terus" kata Vitria dan Priscilla bareng "terus terang philip terang terussssss" "sialan lu "protes Priscilla, "sory..sory… terus gua bilang, pokoknya anaknya baik, cakep, pinter, soleh dan yang pasti belum punya pacar. Nah masalahnya gua tinggal minta perintah dari lu, menurut gua sudah saatnya lu terus terang aja dech" "Enak aja dimana-mana cowok donk yang ngomong duluan, mau ditaruh dimana muka gua" kata Priscilla ketus.
 "Hei non, dengerin, sekarang udah nggak jamannya lagi yang kayak gituan, kalo cewek suka sama cowok ya tinggal ngomong, apa salahnya, lagian gua perhatiin si Pras itu kayaknya suka juga ama lu, nah tunggu apa lagi, ibaratnya sudah musim hujan cepet tuh sawah lu tanamin padi, supaya nanti musim kemarau bisa di panen" cerocos Ryan panjang lebar.
 "Maksud gua kalo tuh sawah nggak lu tanamin padi sekarang, nanti musim kemarau keburu ditanamin palawija artinya ya, mumpung sekarang dia belum punya cewek, siapa tau lu, nanti dianya keburu sama orang" Lanjut Ryan. Priscilla temenung, Vitria bengong sambil mulutnya menganga lebar, nggak percaya apa yang di uacapkan sama si Ryan tadi, kok kayaknya puitis banget
 "bisa juga lu ngomong kayak gitu, Ryan" akhirnya Vitria mengeluarkan suara "Gua juga kagak tau, Ria" jawab Ryan bingung, Priscilla masih termenung mendengar ucapan Ryan sampai akhirnya tertidur pulas.
Hari ini kota Bandung teresa sangat panas, padahal dari pagi tadi matahari bersinar dengan malu-malu, "Wuih gila panas banget nich, kayaknya nanti sore bakalan turun hujan gede nich" ujar Ryan "Lu lagi Pras panas-panas gini pake jaket segala, dasar gendeng lu" seru Darma "Panas apaan orang segini dinginnya di bilang panas" protes Pras "Wah, nih orang kayaknya mabok limun nih" lanjut Darma, semua orang yang ngedengerin pada tersenyum simpul kecuali Priscilla senyumnya rada-rada di tahan sampai-sampai ada bunyi di bawah yang mencurigakan untung 'nggak ada yang denger, langsung aja muka Priscilla pucat pasi.
Jam tiga sore anak-anak pada masuk kelas kebetulan hari ini kuliah sore, Priscilla melihat Ryan dan Darma berbisik-bisik sambil melihat kearahnya. "Hmm.. apa yang mereka bisikkan, pasti mereka merencanakan suatu akal bulus, nanti gua harus hati-hati nih" gumam Priscilla pada dirinya sendiri.
 "Hai, Priscilla gimana udah lu pertimbangkan saran gua?" tanya Ryan, sambil duduk di samping Priscilla dan Vitria "Saran apa…" "Hai , Pras duduk sini, donk" Potong Ryan sambil menunjuk tempat duduk di samping Priscilla yang masih kosong, muka Priscilla langsung berubah kembali, kali ini 'nggak merah, kuning, ungu  tapi putih seputih kapas, siapa duga ternyata akal bulus yang di rencanakan si dua coro itu adalah mengajak Pras untuk duduk tepat di sampingnya. Kontan saja seisi kelas menjadi ramai, ada yang bisik-bisik, ada yang ketawa cekikikan, ada yang hanya senyum-senyum sambil mengulum biji salak dan masih banyak lagi tingkah aneh yang terjadi.
 keringat dingin keluar dari seluruh tubuh Priscilla, dan lebih sebalnya lagi si Ryan malah pindah kebelakang. Sepanjang pelajaran itu Priscilla mengutuk semua orang, namun hatinya tetap berbunga-bunga terlihat dari hidungnya yang kembang kempis. "Oh … Pras andai lu tau kalo gua benar-benar sayang sama lu, suka sama lu" ujar Priscilla dalam hati.
"Eh.. Sil pinjem bukunya sebentar donk, gerah nih", tiba-tiba suara Pras membuyarkan semua lamunanya, "Eeh..iya, nih !"kata Priscilla panik, Pras langsung mengkipas-kipaskan buku Priscilla ketubuhnya.
 Kembali Priscilla terhanyut dalam lamunannya "Pras, andai lu tau bahwa gua suka buanget sama lu, cinta buanget sama lu" ujar Priscilla dalam hati.
 Tiba-tiba Priscilla merasa heran karena makhluk disampingnya sekarang tidak lagi mengkipas-kipaskan buku miliknya lagi melainkan Pras sedang membacanya dengan sangat amat khusu.
"ya Tuhan…" pekik Priscilla tertahan ternyata karena saking paniknya tadi Priscilla memberikan buku coretannya kepada Pras, buku yang berisi ungkapan-ungkapan hatinya terhadap Pras, dan sekarang Pras sedang membacanya dengan sangat khusu, sambil sesekali tersenyum simpul.
Wajah Priscilla pucat pasi keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, ingin rasanya dia merebut buku yang ada pada cowok itu. Namun keinginan itu hilang sama sekali, keberanian itu hilang sama sekali. "mati gua" gumamnya dalam hati "Apa yang harus gua lakukan, Ya Tuhan Please Tolongin Gua" Jerit Priscilla dalam hati, ingin rasanya dia lari saja keluar, atau kalo bisa memasukkan kepala ke badannya kayak kura-kura, tapi semuanya tidak mungkin dilakukan, kini Priscilla hanya tertunduk pasrah "ya Tuhan kini aku serahkan semuanya kepadamu", bisiknya.
Pras melirik pada Priscilla sambil tersenyum simpul, kemudian dia menulis sesuatu dalam buku itu lalu dikembalikannya buku itu pada Priscilla "Baca.." bisik Pras pada Priscilla. Priscilla membaca tulisan yang tadi ditulis Pras "Gua juga sayang lu, Sil…Gua juga cinta lu, Sil…Gua juga suka sama lu, Sil".
Priscilla masih tersenyum didepan komputernya, rona merah masih tersirat diwajahnya, kali ini tidak sambil duduk melainkan berbaring diatas kasurnya, kalimat yang terakhir yang dibaca dalam komputernya adalah "Gua juga sayang lu, Sil…Gua juga cinta lu, Sil…Gua juga suka sama lu, Sil". Ini adalah yang kesepuluh kalinya Priscilla membaca cerita ini.    

Fanny

“Ach, Akhirnya, pasien terakhir” , seruku, lelah memang, tapi itulah konsekwensinya orang bekerja, dari seorang petani, tukang becak sampai kepada seorang direktur pun pasti merasakan lelahnya bekerja. Sebagai seorang Psikiater, aku harus selalu tetap terlihat cerah paling tidak didepan pasien-pasienku.
 kupersilahkan pasienku ini untuk masuk kedalam ruangan kerjaku “silahkan duduk!”, seruku penuh senyum sembari mempersilahkan Fanny untuk duduk diatas sofa yang memang aku sediakan untuk pasien.
Ini adalah kali ketujuh bagi Fanny datang untuk berkonsultasi denganku, pada kali pertama Fanny sempat terkejut melihatku, begitu pula denganku, Fanny tidak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi pasienku.
Fanny  adalah tetanggaku di komplek perumahan dimana aku tinggal, usianya kira-kira lebih muda sepuluh tahun dariku, pada awalnya Fanny ragu dan malu untuk memulai menceritakan semua masalahnya padaku, namun pada akhirnya Fanny mau menceritakan semua masalahnya, setelah mendapat penjelasan dan kepastian dariku bahwa rahasianya akan aman tersimpan.
 Sebagai seorang pria, Fanny jauh dari kriteria seorang pria, gayanya yang feminim, tuturkatanya yang halus dan lembut layaknya seorang perempuan. Sebenarnya aku pun merasa heran, mengapa Fanny yang dulu “jantan”, kini berubah menjadi seorang Fanny yang feminim yang kala berjalan Fanny melenggokan hampir semua anggota tubuhnya, seingatku dulu dia aktif dilingkungan komplek, Fanny akan mencangkul kala ada kegiatan kerja bakti, Fanny akan pergi meronda jika jadwalnya untuk meronda.
Akhirnya rasa penasaranku pun terjawab, Fanny menceritakan semuanya kepadaku, kehancuran rumah tangga kedua orang tuanya sewaktu Fanny masih kecil menjadi alasan yang klise bagi Fanny. Fanny merasa tertekan atas prilaku ibunya terhadap ayahnya, ibunya selalu bersikap otoriter bahkan seakan-akan ingin menguasai seluruh kehidupan ayahnya, mulai dari berkuasanya dia dirumah sampai perselingkuhannya dengan teman sekantor ayahnya.
Sedangkan ayahnya hanyalah seorang sosok bapak yang lemah yang hanya menurut apa yang dikatakan oleh istrinya dan hanya bisa menghela nafas apabila ada sesuatu yang membuatnya kesal dan marah. menurutnya prilaku ibunya membuatnya membenci terhadap semua kaum wanita, bahkan seakan-akan Fanny alergi mendengar nama kaum hawa.
 “Kegiatan yang sering aku ikuti dulu adalah bagian  dari usahaku untuk menutupi semua kekuranganku, mas. Tapi setiap kali pula aku selalu merasa sakit telah membohongi diriku, dan pada akhirnya aku merasa tidak kuat lagi”, lirihnya suatu waktu
Namun akhir-akhir ini Fanny terlihat sangat tertekan sekali, lingkungan disekitarnya seakan terus membuatnya merasa menjadi seorang asing. Fanny merasa ditelanjangi dengan pandangan sinis orang-orang disekitarnya. Fanny merasa telinganya terbakar kala mendengar bisikan orang-orang saat Fanny berjalan didepan mereka. Fanny merasa malu mendengar teriakan dan cemoohan orang-orang terhadapnya.
“tidak ada seorang pun yang ingin menjadi seperti Fanny, Mas”, lirihnya “Fanny tidak akan menyalahkan siapa-siapa mas, Fanny cuma minta, tolonglah kita saling menghargai sebagai sesama umat Tuhan, bukan sebagai seorang pribadi”, lanjutnya, tentu sebagai seorang Psikiater aku harus tanggap dengan apa yang diucapkan seorang pasiennya, dan dalam kasus Fanny ini, dia ingin sekali dihargai dilingkungan sekitarnya, bukanya dihina, dicemooh.
Sebetulnya aku sudah tidak asing lagi menangani kasus yang dialami Fanny sekarang, namun baru kali ini aku menemukan kasus yang lumayan rumit, biasanya dalam kasus orang-orang seperti yang dialami Fanny mereka akan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya atau bahkan mereka tidak akan perduli dengan orang-orang yang memandangnya sinis, menghujat bahkan mencemoohkan mereka
Sebenarnya bagi seorang pria, Fanny termasuk orang yang cukup lumayan tampan, kulitnya putih bersih, disela bibir dan hidungnya tumbuh kumis tipis, bibirnya tipis, hidungnya tidak terlalu mancung ataupun terlalu pesek. Aku sangat yakin sekali apabila Fanny tumbuh normal pasti banyak sekali wanita-wanita yang berebut untuk mendapatkan perhatian darinya, untuk mendapatkan cinta darinya. “mungkin salah kedua orang tuanya yang salah kasih nama dengan nama Fanny, Fanny kan untuk nama seorang perempuan”, selorohku pada diriku sendiri.
Dari  pertemuan pertama aku langsung merasa simpatik kepadanya, aku merasa dalam diri Fanny terdapat sesuatu yang dulu lama hilang dalam diriku, namun sampai saat ini aku tidak tahu apa itu.
Sudah sebulan lamanya Fanny tidak datang untuk berkonsultasi lagi. “ah, mungkin sekarang dia sudah dapat mengatasi sendiri semua masalahnya”, pikirku. aku kembali tenggelam dalam kesibukanku, pasienku semakin bertambah seiring dengan naiknya reputasiku sebagai seorang Psikiater ternama dikota ini. Namun kuakui didalam lubuk hatiku yang paling dalam aku selalu memikirkan seraut wajah yang sangat tertekan dengan apa yang terjadi atas dirinya “Fanny” , tanpa terasa aku menyebut namanya.
Entah mengapa beberapa minggu terakhir ini aku selalu teringat Fanny, teringat akan wajahnya, senyum manisnya, serta lenggak-lenggok pinggulnya ketika dia sedang berjalan, dan pada akhirnya, aku sering membanding-bandingkan Fanny dengan istriku mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. “aku sudah gila”, gumamku
Aku sadar aku sudah membuka kembali lembaran hitam masalaluku, lembaran yang dengan susah payah aku hilangkan dalam ingatanku, lembaran suram yang menjerumuskan aku kedalam kenistaan. Dulu aku tidak beda jauh dengan Fanny, yang membedakan aku dengan Fanny hanyalah dari segi perbuatan saja. Aku sempat tinggal dengan teman sekampusku yang sama-sama mempunyai kelainan sepertiku, sedangkan Fanny setahuku dia belum pernah berbuat seperti yang aku perbuat.
“Aku harus segera mengambil tindakan”, pikirku, aku tidak ingin rumah tangga ku hancur gara-gara seorang Fanny. Dan kesimpulannya aku harus segera pergi ke Psikiater, karena aku akui walaupun aku seorang Psikiater aku tidak dapat berkonsultasi dengan diriku sendiri. “Tapi kenapa harus Fanny?, bukankah bukan baru sekarang saja aku mendapat kasus seperti Fanny, Mungkin sudah puluhan bahkan ratusan”, Tanyaku dalam hati.
--00--
Akhir pekan adalah hari yang selalu aku tunggu, dulu aku gunakan hari sabtu dan minggu untuk berkumpul dengan istri dan kedua anakku. Namun sekarang tidak lagi. Memang betul aku selalu ada dirumah, akan tetapi hatiku bukan untuk keluargaku tapi hanya untuk seorang Fanny dan berharap dia akan datang kerumahku walaupun itu tidak pernah terjadi.
Aku akan berlama-lama duduk di teras depan dengan harapan Fanny akan muncul dihadapanku.
 Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu setengah jam, Fanny datang juga. Seperti biasanya dia menoleh kearah rumahku, dan itu selalu membuat darahku berdesir dengan hebat.
 Seperti minggu lalu atau mungkin minggu yang lalunya lagi atau bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak minggu-minggu yang aku gunakan untuk menunggu Fanny, walaupun ia hanya sekedar lewat didepan rumahku, dan itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.
Kali ini Fanny tampak cerah tidak seperti minggu lalu, “mungkin Fanny sudah sehat kembali”, pikirku dalam hati. Aku tidak sempat menjenguknya ketika dia sakit, kalau pun sempat mana aku berani untuk pergi menjenguknya, bisa-bisa aku di damprat habis oleh istriku, walaupun aku yakin istriku tidak akan pernah tahu perasaanku terhadap Fanny.
Akhirnya Istriku mulai merasakan adanya perubahan terhadap diriku.
“Mas, aku heran?, beberapa minggu ini kau tampak lain dari biasanya, ada apa mas?”, tanyanya suatu waktu, aku hanya menggelengkan kepala “tidak ada apa-apa, mungkin aku hanya sedikit kelelahan, kau tahu pasienku sekarang sudah semakin banyak”, waktu itu istriku dapat mengerti dengan alasanku.
--00--
Perasaanku terhadap Fanny semakin menggila, aku sudah tidak dapat menahannya lagi suatu pagi yang cerah aku sengaja menelepon Fanny, sekedar basa-basi, aku menanyakan keadaannya, sampai akhirnya aku menyuruh dia untuk datang ke tempat praktekku.
Diawali dari pertemuanku dengan Fanny itu, sudah tidak terhitung lagi pertemuan-pertemuan yang kami lakukan, bahkan tidak hanya di tempat praktekku saja tapi di hotel-hotel bahkan aku sempat menyewa sebuah villa untuk menghabiskan akhir pekan bersama Fanny.
“Fanny....Fanny....Fanny”, hanya ada nama itu yang ada dikepalaku saat ini, aku seperti terbuai kembali dengan masa laluku yang dengan susah payah aku lupakan, malah sekarang aku merasa semakin menikmati apa yang sedang aku lakukan bersama Fanny, Istriku..., tentu saja istriku tidak pernah tahu apa yang aku lakukan saat akhir pekan dimana aku tidak ada dirumah.
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai akhirnya tercium juga, itulah yang terjadi pada diriku dan itulah awal pertengkaran hebat antara aku dan istriku.
“aku tidak menyangka mas, suamiku yang sangat aku hormati aku cintai ternyata tak lebih dari seorang manusia yang tak jauh beda dengan binatang, kenapa mas?, kenapa harus dengan Fenny, mungkin aku tidak akan begitu marah apabila kau selingkuh dengan seorang perempuan...iya perempuan asli, mungkin aku masih bisa terima mas.” Emosi istriku meledak-ledak, aku hanya bisa terdiam dan menghela nafas panjang. Aku akui aku memang salah, tapi aku tidak berani untuk meminta maaf, terlalu besar dosaku kepada keluargaku hingga aku memutuskan bahwa aku tidak berhak mendapatkan kata maaf dari mereka.
Pertengkaran hebat itu berlangsung berhari-hari sampai akhirnya istriku memutuskan untuk bercerai denganku, bagaikan terkena sengatan listrik aku jatuh lunglai sujud ditelapak kaki istriku “maafkan aku, maafkan aku”, isakku tak terbayang olehku apabila aku ditinggal pergi.
 “terlambat mas, sekarang sudah terlambat, aku malu, aku marah, entah apa kata orang tuaku, kata tetangga-tetangga kita sekarang!”, kata istriku sembari membereskan semua pakaiannya kemudian berlalu dari hadapanku dengan menggendong anakku, air matanya terus mengalir membasahi seluruh wajahnya.
Itulah terakhir aku melihat istri dan kedua anakku, “maafkan aku mas Ardy, karena aku semua menjadi kacau”, bisik Fanny, ku lihat matanya yang penuh dengan penyesalan, “Akulah yang seharusnya minta maaf, karena aku... kau jadi ikut terbawa-bawa”, ujarku.
Berbulan-bulan aku tidak pernah lagi bertemu bahkan tidak lagi mendengar kabar dari istriku dan kedua anakku, sewaktu-waktu aku sangat merindukan mereka, namun Fanny dengan segala kasih sayangnya mampu menghapus semua rasa rinduku.
Diluar sepengetahuanku ternyata Fanny tidak hanya berhubungan dengan aku saja dan itu membuat hatiku sangat pedih... teramat pedih,
Tidak sekali aku melihat Fanny berjalan berdua bermesraan dengan laki-laki lain. Tak jarang pula dia mengajak teman kencannya itu kedalam rumah. Tapi aku hanya pura-pura tidak tau, bahkan aku tidak melarangnya sedikit pun, hanya ada penyesalan yang tersirat dalam diriku, penyesalan yang tidak akan berujung sampai kapan pun..
puncaknya saat Fanny jatuh sakit yang sangat parah, oleh Dokter Fanny divonis mengidap penyakit yang sangat menakutkan, penyakit yang sampai saat ini belum mempunyai obatnya, penyakit yang membuat orang berdiri bulukuduknya bila penyakit itu disebutkan ....AIDS.
Dan tentu saja aku sudah tertular dengan penyakit laknat itu, “Aku tidak mau mati sebelum aku bersujud dan meminta maaf kepada istriku dan kedua anakku” rintihku “maafkan aku Yani, maafkan segala perbuatanku yang berlumuran dosa ini, hanya karena nafsu aku....aku begitu tega mencampakkan kalian”, jeritku dalam hati, di dalam sebuah kamar temaram, sebuah rumahsakit terkemuka diJakarta.
Yani menutup halaman terakhir buku harian milik Ardy, air matanya berlinang dikedua belah pipinya. Sampai saat ini dia tidak percaya dengan apa yang telah diperbuat oleh Ardy sepeninggal dirinya.
 “Mas, ternyata kau masih belum mengerti arti kepergianku”, isaknya “aku hanya berharap kau mau meninggalkan semua perbuatan laknat itu, hari demi hari aku tunggu kehadiranmu tapi......”.
Gundukan tanah kuburan itu masih merah, semerah rona wajah Yani, di atas pusaranya tertulis nama “ARDY HERLIAN Wafat 17 Juni 2011”...

Rabu, 15 Juni 2011

Manusia Yang Mengaku Sebagai Anjing

Semoga coretan pena kali ini dapat di ambil hikmahnya bagi para pembaca sekalian, sebenarnya malam ini aku ingin menulis sebuah kisah tentang kepemimpinan, namun berhubung kejadiannya masih baru, sehingga aku memutuskan untuk menuliskan kisah yang baru saja aku alami ini… (cerita ini bukan fiktif semata tapi cerita ini bener-bener nyata loh…).

Setelah seharian bekerja aku memutuskan untuk refreshing dulu jalan-jalan dan tidak langsung pulang kerumah, dan memang kebetulan malam ini istri ku kebagian shift siang. Tidak ada kejadian istimewa ketika aku kongkow-kongkow bersenda gurau dengan teman-teman di braga city walk, sebuah mall kecil yang berada di jalan braga Bandung.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam… “saatnya menjemput istri “ ujarku… Kupacu motor bututku dengan kecepatan yang tentunya pelan sekali (namanya juga motor butut… hehehehe… tapi jangan salah loh butut-butut juga motor bukan sepeda).

Sepanjang jalan kenangan pikiranku menerawang..”hmm dah lama ga nulis nich” pikir ku… banyak sekali hal yang melintas dalam pikiranku untuk di jadikan sebuah inspirasi, sampai akhirnya aku putuskan untuk menulis tentang kepemimpinan… (kaga jadi ditulis malam ini hehehehehe).

Akhirnya sampai juga disebuah mall ternama di seantero Bandung tempat dimana istriku bekerja, entah mengapa malam ini banyak sekali motor yang terparkir diluar mall ini, dan sepertinya mereka sama seperti aku, ada yang menjemput istrinya, anaknya atau pacarnya atau bahkan selingkuhannya, entahlah aku malas untuk bertanya kepada mereka hehe…

Disinilah kejadian itu berawal, sedang asiknya melamun sambil melihat aktivitas orang-orang yang sedang menunggu, datang sebuah mobil dari arah belakangku, dengan membunyikan klakson yang sangat keras. 
Aku terperanjat mendengarnya, “aduh, mo kemana nih mobil” ujarku sembari ku dorong motor agak kedepan, namun sang supir tetap saja membunyikan klaksonnya berkali-kali, kudorong lagi motorku kedepan, sampai akhirnya motorku sudah tidak bisa ku dorong lagi kedepan karena sudah mentok dengan motor yang di parkir oleh orang-orang,
 aku menoleh kebelakang “hmm sudah cukup” pikirku melihat posisi mobil yang sudah berada di bahu jalan.
Kembali aku standarkan motor ku dan duduk sambil melamun memandang orang-orang di sekitar ku “ramai sekali orang yang jemput malam ini” pikirku, sekilas aku mendengar sang supir menutup pintu mobilnya.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak berusia sekitar 40-50 tahunan berdiri disampingku sambil memaki,  tadinya kupikir dia bukan memaki kepadaku, namun begitu berada didepanku sibapak ternyata melotot ke arahku.

Sebelum meneruskan cerita ini, aku ingin meminta maaf kepada para pembaca sekalian, karena pada lanjutan cerita ini ada beberapa kata yang sangat kasar. 
Tadinya kata-kata kasar tersebut akan aku sensor saja, tapi setelah dipikir-pikir aku ingin mencurahkan semua isi kejadian dengan apa adanya tanpa ada bagian-bagian yang di biaskan, yang akan mengurangi cita dari tulisan ini, dan karena si bapak menggunakan bahasa sunda yang salah dan sesat, maka akan aku coba translet kedalam bahasa Indonesia yang baik dan benar meski tidak sesuai EYD hehehe… karena memang kata-katanya yang kasar.

Baiklah jika pembaca mau memaafkan aku, berikut aku lanjutkan ceritanya …

 “ hei goblok…, teu kudu pake molotot kaing sagala…! (hei goblok…, ga usah pake melotot ke aku segala)” bentak si bapak dengan mulut gemetar… kontan aku terperangah melongo, dan sontak juga orang-orang disekitarku menoleh ke arah kami berdua.

“ada apa pak?” tanyaku polos “sia goblok (kamu goblok), nyaho teu aing teh saha? (tau ga saya tuh siapa)” bentaknya sambil menunjuk dadanya. 

AING TEH ANJING..(AKU TUH ANJING.. (nah loh!!!!)) urang pribumi didieu (orang asli sini)”, "parkir teh nu bener atuh goblog (yang bener parkirnya goblok).. Aing teh Anjing Kahalangan (saya tuh Anjing.. Terhalang)"

sebetulnya aku ingin tertawa melihat si bapak yang tiba-tiba marah kepadaku, pake ngaku bahwa dia Anjing segala lagi… namun demi menghormati orang tua aku hanya terdiam sambil melongo, begitu juga orang-orang di sekitarku. Mungkin ada sekitar 20 kali dia mengaku-ngaku sebagai Anjing (Aing teh Anjing… x 20), 
dan tawaku hampir saja tumpah ketika aku teringat sobatku di kantor ketika sedang menirukan tetangganya yang gaya bicaranya mirip si bapak mengaku-ngaku sebagai Anjing.

Sekitar 3 menit si bapak memaki-maki didepanku, risih juga diliatin orang, tapi jika kulawan berarti sama gilanya pikirku.  Jadi kubiarkan saja dia memaki… bahkan sesekali aku menguap.
Karena merasa tidak ada respon sibapak akhirnya ngeloyor pergi sambil terus berteriak AING TEH  ANJING.

Begitu dia  berbalik kubaca di balik bajunya, dugaanku sibapak merupakan anggota sebuah  community yang entah ternama atau tidak di Bandung ini, namun memang sering kudengar nama community di balik bajunya tersebut. Dan jika sampai tadi aku lawan tuh si bapak bisa-bisa aku yang bonyok, ternyata beberapa meter dari tempatku ada beberapa temannya yang sedang nongkrong.

Tak berapa lama istriku datang menghampiriku… disepanjang perjalanan menuju rumah aku bercerita kepada istriku sambil tak habis pikir  atas tingkah laku si bapak.

Apa hikmah di balik kejadian diatas… ini menurut persi aku loh… jika pembaca punya persi lain dari kejadian diatas silahkan isi di kolom komentar. Hehehehehehe.

Ternyata benar kata pepatah Mulutmu harimau Mu… tanpa sadar dan emosi yang ga pada tempatnya si bapak malah ngaku sebagai Anjing. Hehehehehehe

 T  Berpikir jernih bisa menghindari keributan yang lebih fatal. Jika tadi aku terbawa emosi mungkin sekarang salah satu dari kami sedang terbaring di rumah sakit sereeeemmm.

<!  Jika kita menjadi anggota sebuah comunty, janganlah merasa karena kita seorang anggota bisa berbuat seenaknya… coba bayangkan jika si bapa memaki pada orang yang ternyata sedang memegang senjata (teroris ) mati konyol lah dia di Dor hehehehehehe.

Itulah sepenggal cerita yang baru saya alami semoga bermanfaat.
Terimakasih

Senin, 06 Juni 2011

NASIHAT TANPA KATA

diikut sertakan dalam lomba menulis "character 0f Indonesia"

Nasihat Tanpa Kata… pembaca mungkin bingung dengan judul kalimat diatas, bagaimana mungkin seseorang memberikan sebuah nasihat tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Tapi ini adalah kisah yang benar-benar aku alami.
Baiklah kita mulai saja cerita tentang nasihat tanpa kata yang mempengaruhi kehidupan ku hingga saat ini, meskipun sebenarnya ribuan nasihat yang diberikan oleh kedua orang tua ku yang sangat aku hormati itu adalah berupa kata-kata, namun nasihat tanpa kata inilah yang tertanam terpatri dalam jiwa ku.
Terkadang apa yang kita lakukan mudah di ingat oleh orang dibandingkan apa yang kita ucapkan, misalkan saja suatu contoh yang nyata yang diberikan oleh anak ku yang saat ini berusia delapan belas bulan. Dia akan menirukan gerakan SULE pada lagu susis dibandingkan harus menirukan nyanyiannya, atau mengacungkan jari telunjuknya tatkala disuruh menirukan  bundanya yang lagi marah padanya. Disini tersirat bahwa perilaku orang tua benar-benar akan terpatri dalam ingatan sang anak. Bagiku dan kedua adikku nasihat dari perilaku kedua orang tuaku itulah yang hingga saat ini terpatri dalam ingatan kami.

Nasihat pertama kesetiaan.
Sebagai karyawan yang bekerja pada perusahaan kontraktor, kerap kali ayah ku harus rela pergi berjauhan dengan istri dan anak-anaknya yang tercinta, bahkan terkadang harus ditempatkan keluar pulau jawa hingga berbulan-bulan lamanya. Bisa dibayangkan saat itu tekhnologi belum secanggih jaman sekarang, hanya lewat surat saja ibu dan ayahku berkirim kabar. Namun kesetian keduanya patut kami contoh, tak pernah kami dengar meski hanya sekedar kabar angin, isu yang bisa menghancurkan rumah tangga itu ada.

Nasihat Kedua Kasih Sayang.
Curahan kasih sayang yang tak terhingga dari kedua orang tuakku sudah tidak terbilang lagi, tentu mereka akan mengorbankan segala sesuatu demi anak-anaknya, juga kasih sayang diantara kedua orang tuakku, tak pernah sekalipun kami melihat pertengkaran apalagi hingga mengakibatkan pemukulan, dan kasih sayang yang mereka berikan bukan hanya kepada kami anak-anaknya melainkan juga kepada orang-orang yang berada di sekitar kami.

Nasihat Ketiga Kejujuran.
Ibu adalah seorang pegawai swasta yang bekerja menjabat sebagai sekertaris dan bagian keuangan pada perusahaan tempatnya bekerja, namun tak secuil pun ibu berani mengambil yang bukan haknya semua pembukuan sesuai dengan uang yang mengalir masuk dan keluar. Begitu pula dengan ayahku. Perusahaan tempatnya bekerja kerap kali di salahgunakan oleh rekan-rekannya dengan berbuat korupsi. Namun ayahku tidak pernah terbersit sedikitpun pun untuk berbuat seperti halnya rekan-rekannya yang pada akhirnya dikeluarkan karena ketahuan korupsi. Bahkan ayahku baru bisa membangun rumah untuk kami tinggal setelah pensiun dari uang pensiun yang diterimanya.

Nasihat ke Empat Tanggung Jawab
Tak pernah aku pungkiri lagi bahwa tanggung jawab kedua orang tua ku terhadap anak-anaknya, lihat saja ayahku rela berjauhan dengan keluarga yang dicintainya hanya sekedar mencukupi dan memberikan nafkah bagi istri dan ketiga anaknya, bukan itu saja ayahku pun memenuhi tanggung jawabnya untuk membiayai adik-adiknya dan orang tuanya. Tak jauh beda dengan ibuku tanggungjwabnya menjaga kami tatkala ayah tidak ada dirumah, dan juga peluh yang mengalir di dahinya tatkala menyiapkan makan malam sepulangnya dari kantor. Atau tanggung jawab kedua orang tuaku terhadap kerjaanya di tempatnya bekerja. Kesemuanya adalah tanggung jawab yang sangat mulia dimata kami bertiga.

Nasihat KeLima Santun
Ciri khas bangsa Indonesia adalah santun, santun merupakan character yang kuat yang mengalir dalam darah di setiap rakyat Indonesia, cara berbicara terhadap sesama, terhadap yang dibawah atau bahkan terhadap orang yang lebih tua, dan hal itu  kerap aku peroleh dari perilaku kedua orang tuaku.

Itulah nasihat tanpa kata yang kerap kali aku saksikan dari kedua orang tuaku, nasihat yang menurutku bisa membangun sebuah kepribadian yang sangat kuat pada diriku, nasihat yang tidak perlu kata-kata, karena menurutku perilaku orang tua lah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian sang anak, dan hal inilah yang aku coba tanamkan sekarang pada anak ku.

Jangan pernah melarang anak untuk tidak merokok bila anda mengatakannya dengan rokok terselip di bibir. Jangan pernah menasihati anak untuk berbuat kasar, jika anda setiap hari bertengkar didepan anak-anak bahkan terkadang dengan di bumbui adegan pemukulan. Jangan pernah anda menasihati anak untuk bersikap jujur, jika foto anda terpangpang di tabloid dengan tuduhan korupsi. Jangan pernah anda menasehati anak untuk bertanggungjawab, jika anda sendiri tidak bisa bertanggung jawab terhadap anak-anak. Dan jangan pernah anda menasehati anak untuk berbuat santun jika anda sendiri tidak pernah menghormati orang lain.

Mari kita kembalikan karakter bangsa kita sebagai bangsa yang santun, jujur, saling menyayangi, setia dan bertanggungjawab, dengan memberikan contoh yang baik pada perilaku kita sebagai orang tua di depan anak-anak.

KERETA TENGAH MALAM

cerita ini diikutsertakan pada ajang Fantasy Fiesta 2011. ( http://kastilfantasi.com/2011/07/kereta-tengah-malam/ )


Hiruk pikuk keramaian terminal bus di kota Bandung menyambut kedatangan Sukatmo. “Ah…begitu ramainya kota ini” ujar Sukatmo, seulas senyum nampak di bibirnya, diusianya yang ke 19 tahun baru sekarang ini Sukatmo menginjakkan kaki di kota kembang ini. Padahal ayahnya asli berasal dari Bandung. Namun semenjak lahir Sukatmo besar disebuah desa di Jawa Timur, desa tempat dilahirkannya ibunya.
            “Aku datang Bandung” ujarnya “aku datang  bersama tekadku guna tercapainya semua cita-cita ku”, dia tertawa sendiri “Hmm, Puitis sekali aku” Gumamnya.
            Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore “Wah aku mesti bergegas”, diambilnya selembar kertas dari saku celananya.
            “Sukat, sesampainya kau di Bandung cari alamat rumah pamanmu” terngiang kembali suara ibu “ingat, kau disana adalah untuk belajar, kamu harus hati-hati. Bandung adalah kota besar jangan sampai kamu terjerumus”. “tentu ibu, pokoknya ibu jangan khawatir Sukat pasti akan baik-baik saja”,ujar sukat, dihapusnya air mata yang mengalir di pipi ibunya.
            “Ibu Ayah, aku akan merindukanmu” bathinnya.
            Matahari sudah terbenam ketika sukatmo sampai di depan sebuah rumah sederhana tua, bekas peninggalan Belanda, halamannya begitu bersih dan tanaman bunganya ditata begitu rapih, disamping rumah sebelah kanan tampak tanaman bunga yang tertata rapih dan dibatasi oleh dua batang besi disekitar tanaman itu. “inikah rumah paman itu?” tanyanya dalam hati, dilihatnya kembali kertas alamat yang diberikan ibunya “Yah memang ini rumahnya, nomor rumahnya cocok dengan ada yang dikertas ini” ujarnya.
            Diketuknya pintu  yang terbuat dari pohon jati yang berdiri kokoh, ukiran kepala kereta api pada pintu itu semakin membuat keindahan rumah itu.
            “Ya ampun Sukat!, kenapa kamu enggak telepon dulu kesini” seru paman “Ah enggak apa-apa paman” jawab Sukat.
            “Kapan kau mulai kuliah?” tanya paman “Mulai minggu depan” jawab Sukatmo. “Ya sudah sekarang kamu mandi dulu, terus makan lalu istirahat” ujar paman “iya paman” ujar sukatmo “kok sepi paman, bibi kemana?” Tanya Sukatmo “Bibi keluar sebentar”.
            Setelah menyimpan tas dalam kamar, Sukatmo bergegas mandi.
            “Wah, air disini dingin sekali” ujar Sukat, tubuh kurusnya gemetaran menahan dingin. “tapi segar, membuat badan yang pegal-pegal hilang rasa pegalnya”
            Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, sukatmo asyik duduk di ruang tamu tenggelam dengan novel detektif yang sangat digemarinya.
            “Sukat sudah makan belum” tiba-tiba bibinya sudah berada disampingnya, “eh,bibi !, sudah bi tadi setelah sampai disini saya langsung makan”, jawab Sukatmo.
            Paman dan Bibi Sukatmo memang tidak dikarunia anak, dan kehadiran sukatmo membuat mereka gembira.
            “Malam ini dingin sekali”, ujar Sukatmo lirih, namun rasa ngantuknya mengalahkan rasa dingin yang menyelimuti Sukatmo, limat menit kemudian Sukatmo tertidur pulas.
            “Ya Tuhan! Ada apa ini”, Tiba-tiba Sukatmo dikagetkan oleh suara gemuruh dan guncangan yang sangat keras.
            Sukatmo duduk diatas tempat tidurnya, terbersit rasa takut yang mencekam di wajahnya, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, Sukatmo tidak bisa bergerak sedikitpun walaupun keinginan untuk segera berlari keluar dari kamar itu besar namun seolah-olah seluruh tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang tak dapat di ketahuinya.
            Suara gemuruh itu semakin kencang dan memekakan telinganya, sukatmo menutupi kedua telinganya.
            Tiba-tiba dibalik tirai jendela kamarnya tampak cahaya terang yang tembus menerpa mukanya.
            “Bruaaaaaak”, tiba-tiba dinding kamarnya seperti dihantam oleh sesuatu yang keras dan tiba-tiba, cahaya yang terang itu langsung menerpa dirinya, membuat matanya silau.
            “Ya Tuhan !, apa ini” tanyanya
            Cahaya itu terus mendekati dirinya, Sukatmo beringsut menjauhi cahaya itu.
            Tiba-tiba cahaya itu padam, tampak didepan dirinya sebuah kereta api hitam jaman dulu dengan asap uap mengepul dari cerobong pembakarannya.
            “Ya Tuhan !” Sukatmo tersadar dari mimpinya, “hmm untung hanya mimpi” ujarnya lirih, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
            Sukatmo beranjak turun dari tempat tidurnya melangkah menuju pintu “hmm, mimpi itu seperti kenyataan saja” batinnya.
            Baru saja beberapa langkah dia berjalan, Tiba-tiba suara gemuruh itu terdengar lagi dan kali ini disertai dengan suara klakson kerata api yang menggema dikeheningan malam.
            Sukatmo tersentak kebelakang, dengan wajah ketakutan dia menatap jendela kamarnya dengan tajam, cahaya itu kembali menembus tirai jendelanya dan menerpa tubuhnya yang gemetaran dan basah oleh keringat dingin.
            Entah kekuatan apa Sukatmo seakan tertarik mendekati jendela kamarnya, tangannya menggapai tirai yang menutupi jendela, setelah tirai jendela tersibak tampak dari kejauhan sebuah kereta api dengan asap uap mengepul dari cerobong pembakaran melaju kencang kearahnya.
            Sukatmo hanya berdiri diam dengan mata terbelalak menyaksikan semua kejadian ini, keringat dingin semakin deras mengucur dari tubuhnya.
            Kereta itu semakin dekat kearahnya, cahaya yang terang dari lampu kereta itu seakan menghipnotis dirinya.
            “Tidaaaak”, akhirnya Sukatmo dapat berteriak dengan sekuat tenaga.
            Dia berlari menjauhi kereta itu, Suara kereta itu memekakan telinganya, Sukatmo terjatuh bergulingngan.
            “Bruukk !” Tiba-tiba Sukatmo jatuh “Aduuuh !” jeritnya kesakitan. Sukatmo terjatuh dari tempat tidurnya. Keningnya memar menghantam ujung meja belajar.
            “Ya Tuhan !, Ternyata tadi aku masih mimpi”, batinnya, dilihatnya keluar jendela ternyata hari sudah siang.
~~00~~


            Masa kuliah yang baru dimulai beberapa hari lagi dimanfaatkan Sukatmo dengan membantu bibinya berkebun di halaman rumah.
            “Jalan kereta api !” batin Sukatmo sambil mengernyitkan dahinya, tiba-tiba Sukatmo terbayang dengan mimpi yang dialaminya malam tadi.
            Sukatmo bergidik membayangkan mimpi yang dialaminya. “ternyata disini memang ada jalan kereta api” ujarnya, tersirat diwajahnya rasa takut atas apa yang dialaminya semalam.
            Malam sudah semakin larut, Sukatmo berbaring ditempat tidurnya, matanya belum bisa terpejam, rasa takutnya akan mimpi kemarin malam mengalahkan rasa kantuknya.
            “Ah, itu semua hanya mimpi”, ujar Sukatmo menghibur diri “Itu hanya kembang tidur saja” batinnya, “mungkin aku kemarin lupa berdoa sebelum tidur” ujarnya terus menghibur diri “semoga saja mimpi itu tidak terulang kembali”.
            Malam semakin larut sayup-sayup diruang tengah terdengar jam berdentang satu kali, Sukatmo tertidur dengan pulas.
            “hai, kamu, bangun!, cepat bangun!”, Tiba-tiba Sukatmo di kejutkan oleh suara teriakan seseorang yang membangunkannya.
            Sukatmo tejaga dari tidurnya, dipandangi sekeliling dirinya dengan rasa heran.
            “Lah, aku ada dimana?”, tanyanya dalam hati, Sukatmo tersadar dirinya tidak lagi berada didalam kamar, melainkan sebuah tempat yang asing bagi dirinya, tempat yang lebih menyerupai sebuah penjara, sekeliling ruangannya kotor dan tidak terurus.
            “hai !, kamu malah melamun, cepat bangun!” teriak seseorang yang bertampang seram dengan tubuh yang kekar dibalik pintu yang terbuat dari terali besi, di belakang pria itu berdiri seseorang dengan pakaian putih bertopi mirip pakaian Belanda sedang mengawasinya.
            “Apa yang kau lihat, Ha?, ayo cepat bangun” tiba-tiba pria bertampang seram itu sudah ada didepannya.
            “Ayo cepat”, bentak pria itu sambil menendang perut Sukatmo, Sukatmo meringis kesakitan. Sambil terhuyung-huyung dia menuju pintu sel.
            Pria berbaju serba putih itu membentak Sukatmo dengan bahasa yang asing bagi Sukatmo.
            “cepat kerjaan masih banyak!, dan harus selesai secepatnya” bentak pria tadi.
            Sukatmo semakin bingung setelah melihat banyak orang yang senasib dengan dirinya, mereka ditendang dan dipukuli ada juga yang diseret-seret, seperti seekor binatang.
            “apakah aku mimpi lagi ?”, tanya Sukatmo dalam hati, dicubit tangannya untuk memastikan bahwa dia sedang bermimpi “Ah, sakit!”, serunya.
            Sukatmo berjalan terhuyung-huyung berbaris dengan para pekerja paksa lain menuju sebuah truk yang akan mengangkut mereka.
            “Ayo Lekas !” bentak seorang pria bertubuh kekar dengan senapan ditangannya.
            “Sukat, sudah lupakan saja rencanamu itu”, bisik seseorang dibelakangnya. Sukatmo tercengang, “dari mana dia tahu namaku?’ tanyanya dalam hati.
            “terlalu bahaya buatmu dan buat kami semua” lanjutnya parau.
            Penasaran dengan apa yang diucapkan pria dibelakangnya, Sukatmo bertanya “memangnya apa yang akan aku lakukan?”, bisik sukatmo, pria tadi terdiam heran memandangi Sukatmo.
            Sampai di tempat yang dituju para pekerja paksa itu langsung disuruh bekerja.
            “oh, rupanya kerja paksa ini untuk membuat jalan kereta” batin Sukatmo.
            “Hai, Kamu cepat ambil itu, eh peralatan and jangan hanya bengong saja” Bentak seorang Belanda dengan bahasa Indonesia yang canggung didengarnya.
Sukatmo menuruti apa yang diperintahkan Belanda itu , diambilnya perkakas disebuah gudang disamping rel kereta yang sudah jadi.
            Ketika melewati sebuah cermin Sukatmo tercengang “Siapa aku?” tanyanya sambil meraba wajahnya, wajah itu kurus kering, hitam legam dengan luka di dahi yang memanjang. Sukatmo terdiam menatap wajah didalam cermin itu.
            “ini…ini wajah kakek buyutku”, jeritnya lirih.
            “berarti aku kembali ke..ke..masa ber pu..pu..luh tahun yang lalu” ujarnya terbata-bata. “dan aku masuk kedalam tubuh kakek buyutku?, tidak….tidak….tidak iini tidak mungkin terjadi” jeritnya terbata-bata.
            Dia teringat cerita neneknya bahwa kakek buyutnya meninggal karena mencoba melarikan diri sewaktu kerja rodi pada waktu jaman belanda dulu.
            “Ya Tuhan!, apa ini memang bukan mimpi?”, tanyanya.
            Tiba-tiba sebuah cambuk memukul keras punggungnya, Sukatmo terhuyung-huyung, punggungnya berdarah.
            “Pemalas, cepat bangun” ujar belanda yang tadi menyuruhnya.
            “ampun…ampun” jerit Sukatmo.
            “ayo lekas kerjakan and ambil peralatan itu” bentak sibelanda sambil menendang Sukatmo, sukatmo terjatuh menghantam dinding.
            “ampun..Ampun” jerit sukatmo
            “kamu orang memang harus dihukum” bentak sibelanda sambil mengayunkan cambuk kearah Sukatmo, Sukatmo mengelak terhuyung membentur sebuah meja dan akhirnya terjatuh.
            “bruk” terdengar suara keras menghantam meja “Aduh” jerit sukatmo, dilihatnya sekeliling ruangan.
            “ah…,hanya mimpi lagi” ujar Sukatmo, didapatinya dirinya sudah berada didalam kamarnya kembali.
            “aduh” jeritnya tertahan, diraba punggungnya, “darah” pekik sukatmo kebingungan.
~~00~~

            Jam sudah menunjukan pukul satu malam akhirnya sukatmo tertidur dengan pulas setelah melewati harinya dibangku kuliah.
            “hai, kau pemalas, Cepat bangun?” kembali Sukatmo dikejutkan oleh seseorang yang bertampang seram dan tubuhnya tinggi besar.
            “Ya Tuhan Mengapa mimpi  ini selalu saja mengganggu tidurku” pekik Sukatmo tertahan, ditahannya rasa nyeri diseluruh tubuhnya.
            Sukatmo mencoba untuk bangkit, namun rasa nyeri diseluruh tubuhnya membuatnya kembali tejatuh, matanya berkunang-kunang sekeliling ruangan sempit itu seakan-akan berputar diatas kepalanya.
            Sekonyong-konyong didengarnya suara-suara gaduh yang sangat dekat dengannya.
            “Cepat bawa dia!”, terdengar suara yang tidak asing lagi baginya. Pria kekar itu tampak semakin garang disampingnya “orang ini sudah tidak berguna lagi” ujarnya.
            Sukatmo berjalan terhuyung-huyung dipapah dua orang yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya kurus kering dan hitam legam kulitnya.
            “sudahlah Sukatmo, jangan kau teruskan keinginanmu untuk melarikan diri dari sini apalagi dengan kondisimu yang sudah payah begini”, ujar salah seorang yang memapahnya setengah berbisik.
            Tiba-tiba rasa nyeri yang tadi menghinggapi seluruh badannya hilang begitu saja, bahkan seolah-olah semangat Sukatmo seperti semakin berkobar.
            “Tidak, aku tetap akan menjalankan semua rencanaku”, tiba-tiba dari bibir Sukatmo meluncur kata-kata yang tidak ingin diucapkannya. Sukatmo merasa heran.
            “aku sudah merencanakan hal ini lama sekali, dan aku tidak berniat untuk mengurungkan niatku ini”, kata-kata itu meluncur terus dari bibirnya tanpa bisa Sukatmo kendalikan, kedua teman yang memapahnya diam tak lagi berkata-kata.
            “aku masih membutuhkan pertolongan kalian, Teman” ujar suara yang keluar dari  mulut Sukatmo.
            Kedua orang itu saling berpandangan “baiklah, tapi kami tidak ingin kau bawa-bawa”, ujar salah seorang teman Sukatmo.
            “Aku akan banyak berhutang budi pada kalian”, ujar Suara itu.
            “Tidak!, tolong hentikan dia..!”, jerit Sukatmo dalam hati suaranya seakan tersangkut didalam tenggorokannya.
            “Kalian tidak tahu bahwa aku…,maksudku kakekku mati karena mencoba melarikan diri”, jerit Sukatmo, suaranya tetap tidak berhasil keluar dari mulutnya, ingin rasanya Sukatmo keluar dari tubuh kakeknya dan berteriak untuk mengingatkan kakek buyutnya agar mengurungkan niatnya untuk melarikan diri, namun Sukatmo tetap tanpa daya tubuhnya seakan terkunci dan hanya bisa menuruti semua keinginan kakek buyutnya.
            “Cepat bawa aku kebalik pohon beringin itu!” kembali suara kakek buyutnya memerintahkan kedua orang yang memapahnya.
            “dibalik pohon beringin itu aku sudah mempersiapkan semua yang aku butuhkan untuk melarikan diri”, bisik suara itu.
            Kedua temannya itu seakan terhipnotis mereka menuruti semua perintah kakek buyut Sukatmo.
            “oh..teman-teman aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat kebebasan dan bertemu kembali dengan istriku”,
            “tidak kakek…., kakek tidak akan pernah bertemu lagi dengan nenek” lirih Sukatmo
            “kau…kau…kau akan meninggal kalau mencoba untuk melarikan diri” lanjut sukatmo suaranya tetap tidak keluar dari mulutnya.
            “terima kasih teman, kau sudah membantuku sejauh ini” ujar suara itu.
            “cepatlah kau pergi sebelum mereka mengetahuinya”, ujar salah seorang temannya. “sampaikan rasa rinduku untuk keluarga disana”, lanjutnya.
            Keinginan kakek buyutnya untuk melarikan diri tidak bisa Sukatmo cegah, Sukatmo hanya bisa meronta dan menjerit dalam hati.
            Sukatmo terus dibawa tubuh kakek buyutnya masuk kedalam hutan belantara. Berlari dan berlari mencoba berlari sejauh mungkin dari tempat pembuatan jalan kereta itu.
            Menjelang tengah malam akhirnya tubuh itu terkulai lemas tak berdaya dan langsung ambruk ketanah setelah seharian berlari tanpa kenal lelah. Sukatmo ikut terbawa kelelahn dia pun langsung tertidur.
            Suara kokok ayam dan suara gaduh disekitarnya membangunkan Sukatmo dari tidurnya. Samar-samar dilihatnya disekitar dirinya begitu ramai, orang-orang dengan tubuh tinggi besar dan sebagian ada yang memakai baju belanda.
            “ha…ha…ha kau tidak akan bisa melarikan diri dari kami”, ujar seseorang dengan senapan ditangannya.
            “ayo lekas berdiri !”, bentaknya
            Tubuh Sukatmo diseret dengan kasar, kedua tangannya sudah terpasang borgol yang begitu kuat mengikatnya.
            Sukatmo hanya terdiam tanpa daya untuk melawan.
            “kau…eh, akan merasakan akibatnya, dan kau akan dijadikan contoh bagi yang lain, bagaimana hukumannya apabila mencoba melarikan diri dari kami”, ujar seoarng tentara Belanda sambil menendang perut Sukatmo.
            Sukatmo meringis kesakitan, hatinya menjeri, meronta. Namun tubuhnya tetap diam dan menuruti apa yang dilakukan para tentara dan penjaga itu. Darah segar mengucur dari mulutnya setelah berkali-kali menerima pukulan.
            “inikah, akhir hidupku dan kakek buyutku” ujar sukatmo lirih.
            Pagi itu para pekerja paksa dikumpulkan di lapangan, dan untuk sementara mereka tidak bekerja hanya disuruh untuk menyaksikan hukuman yang akan diberikan oleh para Belanda itu terhadap Sukatmo.
            Sukatmo terkulai lemas diantara dua tangan kekar yang menyeretnya, keluar dari tahanan.
            Tampak olehnya orang-orang yang pekerja paksa itu menaruh iba terhadap dirinya, bahkan ada yang mengucurkan air mata.
            “ya…Tuhan”, jerit Sukatmo melihat ditengah kerumunan orang-orang pekerja paksa yang dikelilingi penjaga itu, tampak sebuah tiang gantungan dengan tali menjulur kebawah dan diujung tali itu dibuat sebuah simpul berbentuk lingkaran.
            Sukatmo semakin terkulai lemas kakinya tidak bisa lagi berjalan, kedua orang yang menyeretnya terus memaksa Sukatmo untuk mendekati tianggantungan itu.
            “Kalian ingat…eh...apa yang pernah ..eh.. I ucapkan he.?”, ujar seorang belanda dia berdiri tidak jauh dari tiang gantungan itu.
            “ingat orang yang mencoba melarikan diri akan dihukum mati”, lanjutnya “ini harus menjadi pelajaran buat kalian semua bahwa nyawalah taruhannya apabila mencoba melarikan diri” lanjutnya.
            Sukatmo terdiam, mulutnya tertutup rapat tidak dapat berkata apa-apa lagi, dan tidak mencoba untuk berontak.
Sukatmo tidak berani menatap dan mendengar suara orang-orang yang mengelilinginya. Dia terdiam seribu bahasa dengan tali gantungan melingkar dilehernya.
“Selamat tinggal kawan selamat tinggal semuanya”,tiba-tiba suara kekek buyutnya kembali keluar dari mulutnya.
            “Kakek…Kak………….”
            “akhhhhhh….grhppk”, tiba-tiba tali itu menggantung dirinya. Sukatmo meronta-ronta menahan sakit yang sangat dahsyat, sekelilingnya mendadak menjadi gelap.
            “ya… Tuhan”, teriak sukatmo tubuhnya melayang-layang diatas kerumunan orang-orang yang tadi mengelilinginya. Dilihatnya seseorang  ditiang gantungan meronta-ronta melepas ajalnya.
            “tidak…Kakekkkkk”, jerit Sukatmo, kepalanya berputar-putar dan kemudian Sukatmo jatuh terhempas.
            “Bruakkk” Sukatmo terlentang jatuh kebawah tempat tidur didalam kamarnya tubuhnya penuh peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Hening disekelilingnya, semuanya kembali pada keadaan semula seperti sebelum dia tertidur.
            “Kakek…” jeritnya, dilehernya melingkar luka memerah bekas tali yang menggantungnya.