Rabu, 22 Juni 2011

Fanny

“Ach, Akhirnya, pasien terakhir” , seruku, lelah memang, tapi itulah konsekwensinya orang bekerja, dari seorang petani, tukang becak sampai kepada seorang direktur pun pasti merasakan lelahnya bekerja. Sebagai seorang Psikiater, aku harus selalu tetap terlihat cerah paling tidak didepan pasien-pasienku.
 kupersilahkan pasienku ini untuk masuk kedalam ruangan kerjaku “silahkan duduk!”, seruku penuh senyum sembari mempersilahkan Fanny untuk duduk diatas sofa yang memang aku sediakan untuk pasien.
Ini adalah kali ketujuh bagi Fanny datang untuk berkonsultasi denganku, pada kali pertama Fanny sempat terkejut melihatku, begitu pula denganku, Fanny tidak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi pasienku.
Fanny  adalah tetanggaku di komplek perumahan dimana aku tinggal, usianya kira-kira lebih muda sepuluh tahun dariku, pada awalnya Fanny ragu dan malu untuk memulai menceritakan semua masalahnya padaku, namun pada akhirnya Fanny mau menceritakan semua masalahnya, setelah mendapat penjelasan dan kepastian dariku bahwa rahasianya akan aman tersimpan.
 Sebagai seorang pria, Fanny jauh dari kriteria seorang pria, gayanya yang feminim, tuturkatanya yang halus dan lembut layaknya seorang perempuan. Sebenarnya aku pun merasa heran, mengapa Fanny yang dulu “jantan”, kini berubah menjadi seorang Fanny yang feminim yang kala berjalan Fanny melenggokan hampir semua anggota tubuhnya, seingatku dulu dia aktif dilingkungan komplek, Fanny akan mencangkul kala ada kegiatan kerja bakti, Fanny akan pergi meronda jika jadwalnya untuk meronda.
Akhirnya rasa penasaranku pun terjawab, Fanny menceritakan semuanya kepadaku, kehancuran rumah tangga kedua orang tuanya sewaktu Fanny masih kecil menjadi alasan yang klise bagi Fanny. Fanny merasa tertekan atas prilaku ibunya terhadap ayahnya, ibunya selalu bersikap otoriter bahkan seakan-akan ingin menguasai seluruh kehidupan ayahnya, mulai dari berkuasanya dia dirumah sampai perselingkuhannya dengan teman sekantor ayahnya.
Sedangkan ayahnya hanyalah seorang sosok bapak yang lemah yang hanya menurut apa yang dikatakan oleh istrinya dan hanya bisa menghela nafas apabila ada sesuatu yang membuatnya kesal dan marah. menurutnya prilaku ibunya membuatnya membenci terhadap semua kaum wanita, bahkan seakan-akan Fanny alergi mendengar nama kaum hawa.
 “Kegiatan yang sering aku ikuti dulu adalah bagian  dari usahaku untuk menutupi semua kekuranganku, mas. Tapi setiap kali pula aku selalu merasa sakit telah membohongi diriku, dan pada akhirnya aku merasa tidak kuat lagi”, lirihnya suatu waktu
Namun akhir-akhir ini Fanny terlihat sangat tertekan sekali, lingkungan disekitarnya seakan terus membuatnya merasa menjadi seorang asing. Fanny merasa ditelanjangi dengan pandangan sinis orang-orang disekitarnya. Fanny merasa telinganya terbakar kala mendengar bisikan orang-orang saat Fanny berjalan didepan mereka. Fanny merasa malu mendengar teriakan dan cemoohan orang-orang terhadapnya.
“tidak ada seorang pun yang ingin menjadi seperti Fanny, Mas”, lirihnya “Fanny tidak akan menyalahkan siapa-siapa mas, Fanny cuma minta, tolonglah kita saling menghargai sebagai sesama umat Tuhan, bukan sebagai seorang pribadi”, lanjutnya, tentu sebagai seorang Psikiater aku harus tanggap dengan apa yang diucapkan seorang pasiennya, dan dalam kasus Fanny ini, dia ingin sekali dihargai dilingkungan sekitarnya, bukanya dihina, dicemooh.
Sebetulnya aku sudah tidak asing lagi menangani kasus yang dialami Fanny sekarang, namun baru kali ini aku menemukan kasus yang lumayan rumit, biasanya dalam kasus orang-orang seperti yang dialami Fanny mereka akan lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya atau bahkan mereka tidak akan perduli dengan orang-orang yang memandangnya sinis, menghujat bahkan mencemoohkan mereka
Sebenarnya bagi seorang pria, Fanny termasuk orang yang cukup lumayan tampan, kulitnya putih bersih, disela bibir dan hidungnya tumbuh kumis tipis, bibirnya tipis, hidungnya tidak terlalu mancung ataupun terlalu pesek. Aku sangat yakin sekali apabila Fanny tumbuh normal pasti banyak sekali wanita-wanita yang berebut untuk mendapatkan perhatian darinya, untuk mendapatkan cinta darinya. “mungkin salah kedua orang tuanya yang salah kasih nama dengan nama Fanny, Fanny kan untuk nama seorang perempuan”, selorohku pada diriku sendiri.
Dari  pertemuan pertama aku langsung merasa simpatik kepadanya, aku merasa dalam diri Fanny terdapat sesuatu yang dulu lama hilang dalam diriku, namun sampai saat ini aku tidak tahu apa itu.
Sudah sebulan lamanya Fanny tidak datang untuk berkonsultasi lagi. “ah, mungkin sekarang dia sudah dapat mengatasi sendiri semua masalahnya”, pikirku. aku kembali tenggelam dalam kesibukanku, pasienku semakin bertambah seiring dengan naiknya reputasiku sebagai seorang Psikiater ternama dikota ini. Namun kuakui didalam lubuk hatiku yang paling dalam aku selalu memikirkan seraut wajah yang sangat tertekan dengan apa yang terjadi atas dirinya “Fanny” , tanpa terasa aku menyebut namanya.
Entah mengapa beberapa minggu terakhir ini aku selalu teringat Fanny, teringat akan wajahnya, senyum manisnya, serta lenggak-lenggok pinggulnya ketika dia sedang berjalan, dan pada akhirnya, aku sering membanding-bandingkan Fanny dengan istriku mulai dari ujung rambut sampai dengan ujung kaki. “aku sudah gila”, gumamku
Aku sadar aku sudah membuka kembali lembaran hitam masalaluku, lembaran yang dengan susah payah aku hilangkan dalam ingatanku, lembaran suram yang menjerumuskan aku kedalam kenistaan. Dulu aku tidak beda jauh dengan Fanny, yang membedakan aku dengan Fanny hanyalah dari segi perbuatan saja. Aku sempat tinggal dengan teman sekampusku yang sama-sama mempunyai kelainan sepertiku, sedangkan Fanny setahuku dia belum pernah berbuat seperti yang aku perbuat.
“Aku harus segera mengambil tindakan”, pikirku, aku tidak ingin rumah tangga ku hancur gara-gara seorang Fanny. Dan kesimpulannya aku harus segera pergi ke Psikiater, karena aku akui walaupun aku seorang Psikiater aku tidak dapat berkonsultasi dengan diriku sendiri. “Tapi kenapa harus Fanny?, bukankah bukan baru sekarang saja aku mendapat kasus seperti Fanny, Mungkin sudah puluhan bahkan ratusan”, Tanyaku dalam hati.
--00--
Akhir pekan adalah hari yang selalu aku tunggu, dulu aku gunakan hari sabtu dan minggu untuk berkumpul dengan istri dan kedua anakku. Namun sekarang tidak lagi. Memang betul aku selalu ada dirumah, akan tetapi hatiku bukan untuk keluargaku tapi hanya untuk seorang Fanny dan berharap dia akan datang kerumahku walaupun itu tidak pernah terjadi.
Aku akan berlama-lama duduk di teras depan dengan harapan Fanny akan muncul dihadapanku.
 Akhirnya, setelah menunggu sekitar satu setengah jam, Fanny datang juga. Seperti biasanya dia menoleh kearah rumahku, dan itu selalu membuat darahku berdesir dengan hebat.
 Seperti minggu lalu atau mungkin minggu yang lalunya lagi atau bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa banyak minggu-minggu yang aku gunakan untuk menunggu Fanny, walaupun ia hanya sekedar lewat didepan rumahku, dan itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.
Kali ini Fanny tampak cerah tidak seperti minggu lalu, “mungkin Fanny sudah sehat kembali”, pikirku dalam hati. Aku tidak sempat menjenguknya ketika dia sakit, kalau pun sempat mana aku berani untuk pergi menjenguknya, bisa-bisa aku di damprat habis oleh istriku, walaupun aku yakin istriku tidak akan pernah tahu perasaanku terhadap Fanny.
Akhirnya Istriku mulai merasakan adanya perubahan terhadap diriku.
“Mas, aku heran?, beberapa minggu ini kau tampak lain dari biasanya, ada apa mas?”, tanyanya suatu waktu, aku hanya menggelengkan kepala “tidak ada apa-apa, mungkin aku hanya sedikit kelelahan, kau tahu pasienku sekarang sudah semakin banyak”, waktu itu istriku dapat mengerti dengan alasanku.
--00--
Perasaanku terhadap Fanny semakin menggila, aku sudah tidak dapat menahannya lagi suatu pagi yang cerah aku sengaja menelepon Fanny, sekedar basa-basi, aku menanyakan keadaannya, sampai akhirnya aku menyuruh dia untuk datang ke tempat praktekku.
Diawali dari pertemuanku dengan Fanny itu, sudah tidak terhitung lagi pertemuan-pertemuan yang kami lakukan, bahkan tidak hanya di tempat praktekku saja tapi di hotel-hotel bahkan aku sempat menyewa sebuah villa untuk menghabiskan akhir pekan bersama Fanny.
“Fanny....Fanny....Fanny”, hanya ada nama itu yang ada dikepalaku saat ini, aku seperti terbuai kembali dengan masa laluku yang dengan susah payah aku lupakan, malah sekarang aku merasa semakin menikmati apa yang sedang aku lakukan bersama Fanny, Istriku..., tentu saja istriku tidak pernah tahu apa yang aku lakukan saat akhir pekan dimana aku tidak ada dirumah.
Sepandai-pandainya orang menyembunyikan bangkai akhirnya tercium juga, itulah yang terjadi pada diriku dan itulah awal pertengkaran hebat antara aku dan istriku.
“aku tidak menyangka mas, suamiku yang sangat aku hormati aku cintai ternyata tak lebih dari seorang manusia yang tak jauh beda dengan binatang, kenapa mas?, kenapa harus dengan Fenny, mungkin aku tidak akan begitu marah apabila kau selingkuh dengan seorang perempuan...iya perempuan asli, mungkin aku masih bisa terima mas.” Emosi istriku meledak-ledak, aku hanya bisa terdiam dan menghela nafas panjang. Aku akui aku memang salah, tapi aku tidak berani untuk meminta maaf, terlalu besar dosaku kepada keluargaku hingga aku memutuskan bahwa aku tidak berhak mendapatkan kata maaf dari mereka.
Pertengkaran hebat itu berlangsung berhari-hari sampai akhirnya istriku memutuskan untuk bercerai denganku, bagaikan terkena sengatan listrik aku jatuh lunglai sujud ditelapak kaki istriku “maafkan aku, maafkan aku”, isakku tak terbayang olehku apabila aku ditinggal pergi.
 “terlambat mas, sekarang sudah terlambat, aku malu, aku marah, entah apa kata orang tuaku, kata tetangga-tetangga kita sekarang!”, kata istriku sembari membereskan semua pakaiannya kemudian berlalu dari hadapanku dengan menggendong anakku, air matanya terus mengalir membasahi seluruh wajahnya.
Itulah terakhir aku melihat istri dan kedua anakku, “maafkan aku mas Ardy, karena aku semua menjadi kacau”, bisik Fanny, ku lihat matanya yang penuh dengan penyesalan, “Akulah yang seharusnya minta maaf, karena aku... kau jadi ikut terbawa-bawa”, ujarku.
Berbulan-bulan aku tidak pernah lagi bertemu bahkan tidak lagi mendengar kabar dari istriku dan kedua anakku, sewaktu-waktu aku sangat merindukan mereka, namun Fanny dengan segala kasih sayangnya mampu menghapus semua rasa rinduku.
Diluar sepengetahuanku ternyata Fanny tidak hanya berhubungan dengan aku saja dan itu membuat hatiku sangat pedih... teramat pedih,
Tidak sekali aku melihat Fanny berjalan berdua bermesraan dengan laki-laki lain. Tak jarang pula dia mengajak teman kencannya itu kedalam rumah. Tapi aku hanya pura-pura tidak tau, bahkan aku tidak melarangnya sedikit pun, hanya ada penyesalan yang tersirat dalam diriku, penyesalan yang tidak akan berujung sampai kapan pun..
puncaknya saat Fanny jatuh sakit yang sangat parah, oleh Dokter Fanny divonis mengidap penyakit yang sangat menakutkan, penyakit yang sampai saat ini belum mempunyai obatnya, penyakit yang membuat orang berdiri bulukuduknya bila penyakit itu disebutkan ....AIDS.
Dan tentu saja aku sudah tertular dengan penyakit laknat itu, “Aku tidak mau mati sebelum aku bersujud dan meminta maaf kepada istriku dan kedua anakku” rintihku “maafkan aku Yani, maafkan segala perbuatanku yang berlumuran dosa ini, hanya karena nafsu aku....aku begitu tega mencampakkan kalian”, jeritku dalam hati, di dalam sebuah kamar temaram, sebuah rumahsakit terkemuka diJakarta.
Yani menutup halaman terakhir buku harian milik Ardy, air matanya berlinang dikedua belah pipinya. Sampai saat ini dia tidak percaya dengan apa yang telah diperbuat oleh Ardy sepeninggal dirinya.
 “Mas, ternyata kau masih belum mengerti arti kepergianku”, isaknya “aku hanya berharap kau mau meninggalkan semua perbuatan laknat itu, hari demi hari aku tunggu kehadiranmu tapi......”.
Gundukan tanah kuburan itu masih merah, semerah rona wajah Yani, di atas pusaranya tertulis nama “ARDY HERLIAN Wafat 17 Juni 2011”...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar