cerita ini diikutsertakan pada ajang Fantasy Fiesta 2011. ( http://kastilfantasi.com/2011/07/kereta-tengah-malam/ )
Hiruk pikuk keramaian terminal bus di kota Bandung menyambut kedatangan Sukatmo. “Ah…begitu ramainya kota ini” ujar Sukatmo, seulas senyum nampak di bibirnya, diusianya yang ke 19 tahun baru sekarang ini Sukatmo menginjakkan kaki di kota kembang ini. Padahal ayahnya asli berasal dari Bandung. Namun semenjak lahir Sukatmo besar disebuah desa di Jawa Timur, desa tempat dilahirkannya ibunya.
“Aku datang Bandung” ujarnya “aku datang bersama tekadku guna tercapainya semua cita-cita ku”, dia tertawa sendiri “Hmm, Puitis sekali aku” Gumamnya.
Jam sudah menunjukan pukul setengah lima sore “Wah aku mesti bergegas”, diambilnya selembar kertas dari saku celananya.
“Sukat, sesampainya kau di Bandung cari alamat rumah pamanmu” terngiang kembali suara ibu “ingat, kau disana adalah untuk belajar, kamu harus hati-hati. Bandung adalah kota besar jangan sampai kamu terjerumus”. “tentu ibu, pokoknya ibu jangan khawatir Sukat pasti akan baik-baik saja”,ujar sukat, dihapusnya air mata yang mengalir di pipi ibunya.
“Ibu Ayah, aku akan merindukanmu” bathinnya.
Matahari sudah terbenam ketika sukatmo sampai di depan sebuah rumah sederhana tua, bekas peninggalan Belanda, halamannya begitu bersih dan tanaman bunganya ditata begitu rapih, disamping rumah sebelah kanan tampak tanaman bunga yang tertata rapih dan dibatasi oleh dua batang besi disekitar tanaman itu. “inikah rumah paman itu?” tanyanya dalam hati, dilihatnya kembali kertas alamat yang diberikan ibunya “Yah memang ini rumahnya, nomor rumahnya cocok dengan ada yang dikertas ini” ujarnya.
Diketuknya pintu yang terbuat dari pohon jati yang berdiri kokoh, ukiran kepala kereta api pada pintu itu semakin membuat keindahan rumah itu.
“Ya ampun Sukat!, kenapa kamu enggak telepon dulu kesini” seru paman “Ah enggak apa-apa paman” jawab Sukat.
“Kapan kau mulai kuliah?” tanya paman “Mulai minggu depan” jawab Sukatmo. “Ya sudah sekarang kamu mandi dulu, terus makan lalu istirahat” ujar paman “iya paman” ujar sukatmo “kok sepi paman, bibi kemana?” Tanya Sukatmo “Bibi keluar sebentar”.
Setelah menyimpan tas dalam kamar, Sukatmo bergegas mandi.
“Wah, air disini dingin sekali” ujar Sukat, tubuh kurusnya gemetaran menahan dingin. “tapi segar, membuat badan yang pegal-pegal hilang rasa pegalnya”
Jam sudah menunjukkan pukul enam sore, sukatmo asyik duduk di ruang tamu tenggelam dengan novel detektif yang sangat digemarinya.
“Sukat sudah makan belum” tiba-tiba bibinya sudah berada disampingnya, “eh,bibi !, sudah bi tadi setelah sampai disini saya langsung makan”, jawab Sukatmo.
Paman dan Bibi Sukatmo memang tidak dikarunia anak, dan kehadiran sukatmo membuat mereka gembira.
“Malam ini dingin sekali”, ujar Sukatmo lirih, namun rasa ngantuknya mengalahkan rasa dingin yang menyelimuti Sukatmo, limat menit kemudian Sukatmo tertidur pulas.
“Ya Tuhan! Ada apa ini”, Tiba-tiba Sukatmo dikagetkan oleh suara gemuruh dan guncangan yang sangat keras.
Sukatmo duduk diatas tempat tidurnya, terbersit rasa takut yang mencekam di wajahnya, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, Sukatmo tidak bisa bergerak sedikitpun walaupun keinginan untuk segera berlari keluar dari kamar itu besar namun seolah-olah seluruh tubuhnya terkunci oleh sesuatu yang tak dapat di ketahuinya.
Suara gemuruh itu semakin kencang dan memekakan telinganya, sukatmo menutupi kedua telinganya.
Tiba-tiba dibalik tirai jendela kamarnya tampak cahaya terang yang tembus menerpa mukanya.
“Bruaaaaaak”, tiba-tiba dinding kamarnya seperti dihantam oleh sesuatu yang keras dan tiba-tiba, cahaya yang terang itu langsung menerpa dirinya, membuat matanya silau.
“Ya Tuhan !, apa ini” tanyanya
Cahaya itu terus mendekati dirinya, Sukatmo beringsut menjauhi cahaya itu.
Tiba-tiba cahaya itu padam, tampak didepan dirinya sebuah kereta api hitam jaman dulu dengan asap uap mengepul dari cerobong pembakarannya.
“Ya Tuhan !” Sukatmo tersadar dari mimpinya, “hmm untung hanya mimpi” ujarnya lirih, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Sukatmo beranjak turun dari tempat tidurnya melangkah menuju pintu “hmm, mimpi itu seperti kenyataan saja” batinnya.
Baru saja beberapa langkah dia berjalan, Tiba-tiba suara gemuruh itu terdengar lagi dan kali ini disertai dengan suara klakson kerata api yang menggema dikeheningan malam.
Sukatmo tersentak kebelakang, dengan wajah ketakutan dia menatap jendela kamarnya dengan tajam, cahaya itu kembali menembus tirai jendelanya dan menerpa tubuhnya yang gemetaran dan basah oleh keringat dingin.
Entah kekuatan apa Sukatmo seakan tertarik mendekati jendela kamarnya, tangannya menggapai tirai yang menutupi jendela, setelah tirai jendela tersibak tampak dari kejauhan sebuah kereta api dengan asap uap mengepul dari cerobong pembakaran melaju kencang kearahnya.
Sukatmo hanya berdiri diam dengan mata terbelalak menyaksikan semua kejadian ini, keringat dingin semakin deras mengucur dari tubuhnya.
Kereta itu semakin dekat kearahnya, cahaya yang terang dari lampu kereta itu seakan menghipnotis dirinya.
“Tidaaaak”, akhirnya Sukatmo dapat berteriak dengan sekuat tenaga.
Dia berlari menjauhi kereta itu, Suara kereta itu memekakan telinganya, Sukatmo terjatuh bergulingngan.
“Bruukk !” Tiba-tiba Sukatmo jatuh “Aduuuh !” jeritnya kesakitan. Sukatmo terjatuh dari tempat tidurnya. Keningnya memar menghantam ujung meja belajar.
“Ya Tuhan !, Ternyata tadi aku masih mimpi”, batinnya, dilihatnya keluar jendela ternyata hari sudah siang.
~~00~~
Masa kuliah yang baru dimulai beberapa hari lagi dimanfaatkan Sukatmo dengan membantu bibinya berkebun di halaman rumah.
“Jalan kereta api !” batin Sukatmo sambil mengernyitkan dahinya, tiba-tiba Sukatmo terbayang dengan mimpi yang dialaminya malam tadi.
Sukatmo bergidik membayangkan mimpi yang dialaminya. “ternyata disini memang ada jalan kereta api” ujarnya, tersirat diwajahnya rasa takut atas apa yang dialaminya semalam.
Malam sudah semakin larut, Sukatmo berbaring ditempat tidurnya, matanya belum bisa terpejam, rasa takutnya akan mimpi kemarin malam mengalahkan rasa kantuknya.
“Ah, itu semua hanya mimpi”, ujar Sukatmo menghibur diri “Itu hanya kembang tidur saja” batinnya, “mungkin aku kemarin lupa berdoa sebelum tidur” ujarnya terus menghibur diri “semoga saja mimpi itu tidak terulang kembali”.
Malam semakin larut sayup-sayup diruang tengah terdengar jam berdentang satu kali, Sukatmo tertidur dengan pulas.
“hai, kamu, bangun!, cepat bangun!”, Tiba-tiba Sukatmo di kejutkan oleh suara teriakan seseorang yang membangunkannya.
Sukatmo tejaga dari tidurnya, dipandangi sekeliling dirinya dengan rasa heran.
“Lah, aku ada dimana?”, tanyanya dalam hati, Sukatmo tersadar dirinya tidak lagi berada didalam kamar, melainkan sebuah tempat yang asing bagi dirinya, tempat yang lebih menyerupai sebuah penjara, sekeliling ruangannya kotor dan tidak terurus.
“hai !, kamu malah melamun, cepat bangun!” teriak seseorang yang bertampang seram dengan tubuh yang kekar dibalik pintu yang terbuat dari terali besi, di belakang pria itu berdiri seseorang dengan pakaian putih bertopi mirip pakaian Belanda sedang mengawasinya.
“Apa yang kau lihat, Ha?, ayo cepat bangun” tiba-tiba pria bertampang seram itu sudah ada didepannya.
“Ayo cepat”, bentak pria itu sambil menendang perut Sukatmo, Sukatmo meringis kesakitan. Sambil terhuyung-huyung dia menuju pintu sel.
Pria berbaju serba putih itu membentak Sukatmo dengan bahasa yang asing bagi Sukatmo.
“cepat kerjaan masih banyak!, dan harus selesai secepatnya” bentak pria tadi.
Sukatmo semakin bingung setelah melihat banyak orang yang senasib dengan dirinya, mereka ditendang dan dipukuli ada juga yang diseret-seret, seperti seekor binatang.
“apakah aku mimpi lagi ?”, tanya Sukatmo dalam hati, dicubit tangannya untuk memastikan bahwa dia sedang bermimpi “Ah, sakit!”, serunya.
Sukatmo berjalan terhuyung-huyung berbaris dengan para pekerja paksa lain menuju sebuah truk yang akan mengangkut mereka.
“Ayo Lekas !” bentak seorang pria bertubuh kekar dengan senapan ditangannya.
“Sukat, sudah lupakan saja rencanamu itu”, bisik seseorang dibelakangnya. Sukatmo tercengang, “dari mana dia tahu namaku?’ tanyanya dalam hati.
“terlalu bahaya buatmu dan buat kami semua” lanjutnya parau.
Penasaran dengan apa yang diucapkan pria dibelakangnya, Sukatmo bertanya “memangnya apa yang akan aku lakukan?”, bisik sukatmo, pria tadi terdiam heran memandangi Sukatmo.
Sampai di tempat yang dituju para pekerja paksa itu langsung disuruh bekerja.
“oh, rupanya kerja paksa ini untuk membuat jalan kereta” batin Sukatmo.
“Hai, Kamu cepat ambil itu, eh peralatan and jangan hanya bengong saja” Bentak seorang Belanda dengan bahasa Indonesia yang canggung didengarnya.
Sukatmo menuruti apa yang diperintahkan Belanda itu , diambilnya perkakas disebuah gudang disamping rel kereta yang sudah jadi.
Ketika melewati sebuah cermin Sukatmo tercengang “Siapa aku?” tanyanya sambil meraba wajahnya, wajah itu kurus kering, hitam legam dengan luka di dahi yang memanjang. Sukatmo terdiam menatap wajah didalam cermin itu.
“ini…ini wajah kakek buyutku”, jeritnya lirih.
“berarti aku kembali ke..ke..masa ber pu..pu..luh tahun yang lalu” ujarnya terbata-bata. “dan aku masuk kedalam tubuh kakek buyutku?, tidak….tidak….tidak iini tidak mungkin terjadi” jeritnya terbata-bata.
Dia teringat cerita neneknya bahwa kakek buyutnya meninggal karena mencoba melarikan diri sewaktu kerja rodi pada waktu jaman belanda dulu.
“Ya Tuhan!, apa ini memang bukan mimpi?”, tanyanya.
Tiba-tiba sebuah cambuk memukul keras punggungnya, Sukatmo terhuyung-huyung, punggungnya berdarah.
“Pemalas, cepat bangun” ujar belanda yang tadi menyuruhnya.
“ampun…ampun” jerit Sukatmo.
“ayo lekas kerjakan and ambil peralatan itu” bentak sibelanda sambil menendang Sukatmo, sukatmo terjatuh menghantam dinding.
“ampun..Ampun” jerit sukatmo
“kamu orang memang harus dihukum” bentak sibelanda sambil mengayunkan cambuk kearah Sukatmo, Sukatmo mengelak terhuyung membentur sebuah meja dan akhirnya terjatuh.
“bruk” terdengar suara keras menghantam meja “Aduh” jerit sukatmo, dilihatnya sekeliling ruangan.
“ah…,hanya mimpi lagi” ujar Sukatmo, didapatinya dirinya sudah berada didalam kamarnya kembali.
“aduh” jeritnya tertahan, diraba punggungnya, “darah” pekik sukatmo kebingungan.
~~00~~
Jam sudah menunjukan pukul satu malam akhirnya sukatmo tertidur dengan pulas setelah melewati harinya dibangku kuliah.
“hai, kau pemalas, Cepat bangun?” kembali Sukatmo dikejutkan oleh seseorang yang bertampang seram dan tubuhnya tinggi besar.
“Ya Tuhan Mengapa mimpi ini selalu saja mengganggu tidurku” pekik Sukatmo tertahan, ditahannya rasa nyeri diseluruh tubuhnya.
Sukatmo mencoba untuk bangkit, namun rasa nyeri diseluruh tubuhnya membuatnya kembali tejatuh, matanya berkunang-kunang sekeliling ruangan sempit itu seakan-akan berputar diatas kepalanya.
Sekonyong-konyong didengarnya suara-suara gaduh yang sangat dekat dengannya.
“Cepat bawa dia!”, terdengar suara yang tidak asing lagi baginya. Pria kekar itu tampak semakin garang disampingnya “orang ini sudah tidak berguna lagi” ujarnya.
Sukatmo berjalan terhuyung-huyung dipapah dua orang yang keadaannya tidak jauh berbeda dengannya kurus kering dan hitam legam kulitnya.
“sudahlah Sukatmo, jangan kau teruskan keinginanmu untuk melarikan diri dari sini apalagi dengan kondisimu yang sudah payah begini”, ujar salah seorang yang memapahnya setengah berbisik.
Tiba-tiba rasa nyeri yang tadi menghinggapi seluruh badannya hilang begitu saja, bahkan seolah-olah semangat Sukatmo seperti semakin berkobar.
“Tidak, aku tetap akan menjalankan semua rencanaku”, tiba-tiba dari bibir Sukatmo meluncur kata-kata yang tidak ingin diucapkannya. Sukatmo merasa heran.
“aku sudah merencanakan hal ini lama sekali, dan aku tidak berniat untuk mengurungkan niatku ini”, kata-kata itu meluncur terus dari bibirnya tanpa bisa Sukatmo kendalikan, kedua teman yang memapahnya diam tak lagi berkata-kata.
“aku masih membutuhkan pertolongan kalian, Teman” ujar suara yang keluar dari mulut Sukatmo.
Kedua orang itu saling berpandangan “baiklah, tapi kami tidak ingin kau bawa-bawa”, ujar salah seorang teman Sukatmo.
“Aku akan banyak berhutang budi pada kalian”, ujar Suara itu.
“Tidak!, tolong hentikan dia..!”, jerit Sukatmo dalam hati suaranya seakan tersangkut didalam tenggorokannya.
“Kalian tidak tahu bahwa aku…,maksudku kakekku mati karena mencoba melarikan diri”, jerit Sukatmo, suaranya tetap tidak berhasil keluar dari mulutnya, ingin rasanya Sukatmo keluar dari tubuh kakeknya dan berteriak untuk mengingatkan kakek buyutnya agar mengurungkan niatnya untuk melarikan diri, namun Sukatmo tetap tanpa daya tubuhnya seakan terkunci dan hanya bisa menuruti semua keinginan kakek buyutnya.
“Cepat bawa aku kebalik pohon beringin itu!” kembali suara kakek buyutnya memerintahkan kedua orang yang memapahnya.
“dibalik pohon beringin itu aku sudah mempersiapkan semua yang aku butuhkan untuk melarikan diri”, bisik suara itu.
Kedua temannya itu seakan terhipnotis mereka menuruti semua perintah kakek buyut Sukatmo.
“oh..teman-teman aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat kebebasan dan bertemu kembali dengan istriku”,
“tidak kakek…., kakek tidak akan pernah bertemu lagi dengan nenek” lirih Sukatmo
“kau…kau…kau akan meninggal kalau mencoba untuk melarikan diri” lanjut sukatmo suaranya tetap tidak keluar dari mulutnya.
“terima kasih teman, kau sudah membantuku sejauh ini” ujar suara itu.
“cepatlah kau pergi sebelum mereka mengetahuinya”, ujar salah seorang temannya. “sampaikan rasa rinduku untuk keluarga disana”, lanjutnya.
Keinginan kakek buyutnya untuk melarikan diri tidak bisa Sukatmo cegah, Sukatmo hanya bisa meronta dan menjerit dalam hati.
Sukatmo terus dibawa tubuh kakek buyutnya masuk kedalam hutan belantara. Berlari dan berlari mencoba berlari sejauh mungkin dari tempat pembuatan jalan kereta itu.
Menjelang tengah malam akhirnya tubuh itu terkulai lemas tak berdaya dan langsung ambruk ketanah setelah seharian berlari tanpa kenal lelah. Sukatmo ikut terbawa kelelahn dia pun langsung tertidur.
Suara kokok ayam dan suara gaduh disekitarnya membangunkan Sukatmo dari tidurnya. Samar-samar dilihatnya disekitar dirinya begitu ramai, orang-orang dengan tubuh tinggi besar dan sebagian ada yang memakai baju belanda.
“ha…ha…ha kau tidak akan bisa melarikan diri dari kami”, ujar seseorang dengan senapan ditangannya.
“ayo lekas berdiri !”, bentaknya
Tubuh Sukatmo diseret dengan kasar, kedua tangannya sudah terpasang borgol yang begitu kuat mengikatnya.
Sukatmo hanya terdiam tanpa daya untuk melawan.
“kau…eh, akan merasakan akibatnya, dan kau akan dijadikan contoh bagi yang lain, bagaimana hukumannya apabila mencoba melarikan diri dari kami”, ujar seoarng tentara Belanda sambil menendang perut Sukatmo.
Sukatmo meringis kesakitan, hatinya menjeri, meronta. Namun tubuhnya tetap diam dan menuruti apa yang dilakukan para tentara dan penjaga itu. Darah segar mengucur dari mulutnya setelah berkali-kali menerima pukulan.
“inikah, akhir hidupku dan kakek buyutku” ujar sukatmo lirih.
Pagi itu para pekerja paksa dikumpulkan di lapangan, dan untuk sementara mereka tidak bekerja hanya disuruh untuk menyaksikan hukuman yang akan diberikan oleh para Belanda itu terhadap Sukatmo.
Sukatmo terkulai lemas diantara dua tangan kekar yang menyeretnya, keluar dari tahanan.
Tampak olehnya orang-orang yang pekerja paksa itu menaruh iba terhadap dirinya, bahkan ada yang mengucurkan air mata.
“ya…Tuhan”, jerit Sukatmo melihat ditengah kerumunan orang-orang pekerja paksa yang dikelilingi penjaga itu, tampak sebuah tiang gantungan dengan tali menjulur kebawah dan diujung tali itu dibuat sebuah simpul berbentuk lingkaran.
Sukatmo semakin terkulai lemas kakinya tidak bisa lagi berjalan, kedua orang yang menyeretnya terus memaksa Sukatmo untuk mendekati tianggantungan itu.
“Kalian ingat…eh...apa yang pernah ..eh.. I ucapkan he.?”, ujar seorang belanda dia berdiri tidak jauh dari tiang gantungan itu.
“ingat orang yang mencoba melarikan diri akan dihukum mati”, lanjutnya “ini harus menjadi pelajaran buat kalian semua bahwa nyawalah taruhannya apabila mencoba melarikan diri” lanjutnya.
Sukatmo terdiam, mulutnya tertutup rapat tidak dapat berkata apa-apa lagi, dan tidak mencoba untuk berontak.
Sukatmo tidak berani menatap dan mendengar suara orang-orang yang mengelilinginya. Dia terdiam seribu bahasa dengan tali gantungan melingkar dilehernya.
“Selamat tinggal kawan selamat tinggal semuanya”,tiba-tiba suara kekek buyutnya kembali keluar dari mulutnya.
“Kakek…Kak………….”
“akhhhhhh….grhppk”, tiba-tiba tali itu menggantung dirinya. Sukatmo meronta-ronta menahan sakit yang sangat dahsyat, sekelilingnya mendadak menjadi gelap.
“ya… Tuhan”, teriak sukatmo tubuhnya melayang-layang diatas kerumunan orang-orang yang tadi mengelilinginya. Dilihatnya seseorang ditiang gantungan meronta-ronta melepas ajalnya.
“tidak…Kakekkkkk”, jerit Sukatmo, kepalanya berputar-putar dan kemudian Sukatmo jatuh terhempas.
“Bruakkk” Sukatmo terlentang jatuh kebawah tempat tidur didalam kamarnya tubuhnya penuh peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Hening disekelilingnya, semuanya kembali pada keadaan semula seperti sebelum dia tertidur.
“Kakek…” jeritnya, dilehernya melingkar luka memerah bekas tali yang menggantungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar