diikut sertakan dalam lomba menulis "character 0f Indonesia"
Nasihat Tanpa Kata… pembaca mungkin bingung dengan judul kalimat diatas, bagaimana mungkin seseorang memberikan sebuah nasihat tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Tapi ini adalah kisah yang benar-benar aku alami.
Baiklah kita mulai saja cerita tentang nasihat tanpa kata yang mempengaruhi kehidupan ku hingga saat ini, meskipun sebenarnya ribuan nasihat yang diberikan oleh kedua orang tua ku yang sangat aku hormati itu adalah berupa kata-kata, namun nasihat tanpa kata inilah yang tertanam terpatri dalam jiwa ku.
Terkadang apa yang kita lakukan mudah di ingat oleh orang dibandingkan apa yang kita ucapkan, misalkan saja suatu contoh yang nyata yang diberikan oleh anak ku yang saat ini berusia delapan belas bulan. Dia akan menirukan gerakan SULE pada lagu susis dibandingkan harus menirukan nyanyiannya, atau mengacungkan jari telunjuknya tatkala disuruh menirukan bundanya yang lagi marah padanya. Disini tersirat bahwa perilaku orang tua benar-benar akan terpatri dalam ingatan sang anak. Bagiku dan kedua adikku nasihat dari perilaku kedua orang tuaku itulah yang hingga saat ini terpatri dalam ingatan kami.
Nasihat pertama kesetiaan.
Sebagai karyawan yang bekerja pada perusahaan kontraktor, kerap kali ayah ku harus rela pergi berjauhan dengan istri dan anak-anaknya yang tercinta, bahkan terkadang harus ditempatkan keluar pulau jawa hingga berbulan-bulan lamanya. Bisa dibayangkan saat itu tekhnologi belum secanggih jaman sekarang, hanya lewat surat saja ibu dan ayahku berkirim kabar. Namun kesetian keduanya patut kami contoh, tak pernah kami dengar meski hanya sekedar kabar angin, isu yang bisa menghancurkan rumah tangga itu ada.
Nasihat Kedua Kasih Sayang.
Curahan kasih sayang yang tak terhingga dari kedua orang tuakku sudah tidak terbilang lagi, tentu mereka akan mengorbankan segala sesuatu demi anak-anaknya, juga kasih sayang diantara kedua orang tuakku, tak pernah sekalipun kami melihat pertengkaran apalagi hingga mengakibatkan pemukulan, dan kasih sayang yang mereka berikan bukan hanya kepada kami anak-anaknya melainkan juga kepada orang-orang yang berada di sekitar kami.
Nasihat Ketiga Kejujuran.
Ibu adalah seorang pegawai swasta yang bekerja menjabat sebagai sekertaris dan bagian keuangan pada perusahaan tempatnya bekerja, namun tak secuil pun ibu berani mengambil yang bukan haknya semua pembukuan sesuai dengan uang yang mengalir masuk dan keluar. Begitu pula dengan ayahku. Perusahaan tempatnya bekerja kerap kali di salahgunakan oleh rekan-rekannya dengan berbuat korupsi. Namun ayahku tidak pernah terbersit sedikitpun pun untuk berbuat seperti halnya rekan-rekannya yang pada akhirnya dikeluarkan karena ketahuan korupsi. Bahkan ayahku baru bisa membangun rumah untuk kami tinggal setelah pensiun dari uang pensiun yang diterimanya.
Nasihat ke Empat Tanggung Jawab
Tak pernah aku pungkiri lagi bahwa tanggung jawab kedua orang tua ku terhadap anak-anaknya, lihat saja ayahku rela berjauhan dengan keluarga yang dicintainya hanya sekedar mencukupi dan memberikan nafkah bagi istri dan ketiga anaknya, bukan itu saja ayahku pun memenuhi tanggung jawabnya untuk membiayai adik-adiknya dan orang tuanya. Tak jauh beda dengan ibuku tanggungjwabnya menjaga kami tatkala ayah tidak ada dirumah, dan juga peluh yang mengalir di dahinya tatkala menyiapkan makan malam sepulangnya dari kantor. Atau tanggung jawab kedua orang tuaku terhadap kerjaanya di tempatnya bekerja. Kesemuanya adalah tanggung jawab yang sangat mulia dimata kami bertiga.
Nasihat KeLima Santun
Ciri khas bangsa Indonesia adalah santun, santun merupakan character yang kuat yang mengalir dalam darah di setiap rakyat Indonesia, cara berbicara terhadap sesama, terhadap yang dibawah atau bahkan terhadap orang yang lebih tua, dan hal itu kerap aku peroleh dari perilaku kedua orang tuaku.
Itulah nasihat tanpa kata yang kerap kali aku saksikan dari kedua orang tuaku, nasihat yang menurutku bisa membangun sebuah kepribadian yang sangat kuat pada diriku, nasihat yang tidak perlu kata-kata, karena menurutku perilaku orang tua lah yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian sang anak, dan hal inilah yang aku coba tanamkan sekarang pada anak ku.
Jangan pernah melarang anak untuk tidak merokok bila anda mengatakannya dengan rokok terselip di bibir. Jangan pernah menasihati anak untuk berbuat kasar, jika anda setiap hari bertengkar didepan anak-anak bahkan terkadang dengan di bumbui adegan pemukulan. Jangan pernah anda menasihati anak untuk bersikap jujur, jika foto anda terpangpang di tabloid dengan tuduhan korupsi. Jangan pernah anda menasehati anak untuk bertanggungjawab, jika anda sendiri tidak bisa bertanggung jawab terhadap anak-anak. Dan jangan pernah anda menasehati anak untuk berbuat santun jika anda sendiri tidak pernah menghormati orang lain.
Mari kita kembalikan karakter bangsa kita sebagai bangsa yang santun, jujur, saling menyayangi, setia dan bertanggungjawab, dengan memberikan contoh yang baik pada perilaku kita sebagai orang tua di depan anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar