Priscilla tersenyum sendiri di depan komputernya, rona merah menghiasi seluruh wajahnya. Semenjak pulang kuliah tadi sore Priscilla belum beranjak dari depan komputernya jangankan untuk pergi makan malam, kegiatan yang biasa membuat setiap orang akan kelabakan apabila dia datang, Priscilla dengan tenang membuangnya begitu saja dalam kantong plastik.
"ihh jijik..",ujar si mbok yang tiba-tiba masuk kamar sambil menutup hidungnya, "Non Priscilla kok buang anunya disitu sich..?, Kan bau." Lanjut si Mbok, tapi nggak ada respon dari Priscilla malahan dia makin terhanyut dengan apa yang sedang dilakukannya, kadang-kadang tersenyum, kadang manyun, kadang nungging dan kadang-kadang ketawa cekikikan."Ihh, Serem amet…", ujar si mbok sambil berlalu ketakutan.
"Itu tandanya lu lagi jatuh cinta Sil,..!" kata Vitria, setelah Sisil panggilan sayang Priscilla menceritakan semua unek-uneknya, "Ala, lu nggak usah sok puitis dech Ria, .." "tunggu dulu Sil, buktinya kalo elu nggak lagi jatuh cinta mana mungkin lu 'nggak bisa tidur gara-gara lu kemarin diperhatiin sama si Pras" potong Ria panggilan sayang Vitria, wajah Sisil berubah warna dari hitam ke putih terus ungu kemudian kuning dan terakhir wajahnya berubah menjadi merah merona "ihh, gila wajah lu berubah-ubah warna gitu kayak bunglon , Sil". "Sialan lu ngatain gua bunglon,…"Sisil mencubit paha Ria dengan penuh perasaan,
"Gini Ria maksud gua, apa gua cocok kalo jalan sama si Pras…" "Tuh…tuh akhirnya ngaku sendirikan " potong Ria, "Wah, bakal menjadi gosip terpanas musim ini,..Hai teman -te Blpppp Blpppp.." Sisil membukam mulut Ria, dengan sandal japit yang dipakainya.
Mendung sore ini tidak semendung hati Priscilla, di wajahnya yang putih itu selalu tersungging sebuah senyum, senyum yang paling manis yang pernah Priscilla keluarkan, Priscilla nggak peduli mau orang kek, mau tiang listrik kek pokoknya siapa aja yang ada didepannya pasti dikasih senyum mautnya. Sampai-sampai si Abang tukang sayur langganannya tersenyum ke geer-an ketika Priscilla nyampe di depan rumahnya dan terus tersenyum pada si abang sayur, apalagi si Abang emang udah lama naksir berat sama Priscilla, tapi Priscilla cuek aja lagi.
"Bodo amat, mau naksir mau nggak yang penting gua dapat sayur gratis, lagian emang gua pikirin" katanya suatu saat pada Vitria, yang repot sekarang adalah si Abang dengan penuh kegirangan karena mendapat senyum spesial Priscilla, dia membagikan dagangannya kepada para ibu-ibu PKK yang mengelilinginya sambil matanya tak lepas dari Priscilla"ayo..ayo, sekarang gratis 'nggak usah repot-repot beli,.. tapi besok dibayar yach..!" seru si Abang. Parahnya lagi Priscilla bukannya menghentikan aksi senyumnya itu, malahan makin sengaja memamerkan barisan giginya yang putih bersih mingkilat kayak iklan pasta gigi di televisi.
Malam minggu merupakan malam yang panjang menurut segelintir orang, banyak muda-mudi keluar hanya untuk sekedar melepaskan rasa penat yang dirasakan setelah satu minggu lamanya mereka berkutat dengan berbagai aktivitas.
Namun ini merupakan malam minggu yang kesekian bagi Priscilla yang merupakan malam minggu yang sangat sepi dan sunyi, alunan musik yang dibawakan koesplus terdengar hawar-hawar dari sebuah mini compo di sudut kamarnya, sementara Priscilla sendiri tengah terpekur diatas tempat tidur wajahnya memancarkan sebuah penantian akan munculnya suatu keajaiban, matanya menerawang jauh entah kemana.
Emang semenjak Priscilla Putus dari pacarnya yang dulu sampai sekarang dia belum ada yang mampu mengisi hatinya dan mengganti tempat Agung mantan pacarnya dulu, di hati yang paling dalamnya, perasaan suka kepada cowok susah Priscilla dapatkan lagi padahal banyak cowok yang antri untuk mendapatkan secercah kasih sayang dan harapan dari dirinya, namun dengan tegas Priscilla berkata seperti bapak satpam di sebuah perusahaan besar "Sooorrryyyyy 'nggak ada lowongan, mas", maka mereka pun pulang dengan tangan hampa tanpa membawa hasil, 'nggak sedikit cowok-cowok yang di tolak Priscilla menjadi penghuni RSJ.
Namun entah apa yang terjadi ketika dia pertama melihat Pras hatinya langsung berdebar-debar 'nggak karuan seakan-akan menghapus mitos yang selama ini menggelayuti dirinya bahwa dia anti dengan yang namanya cowok "Apa sich yang lu suka dari Pras, Sil ?" tanya Vitria suatu saat "Pokoknya semuanya dech " jawab Priscilla "Terutama rambut panjangnya, mengingatkan gua pada pemain film Renegade, film kesukaan gua" lanjut Priscilla sambil menerawang jauh.
"Tok…tok..", Priscilla dikagetkan oleh suara pintu yang diketuk dari luar "siapa ?" tanyanya, "bibik, Non…" jawab si mbok dibalik pintu "hmmm…Iya, ada apa bik ?"tanya Priscilla kembali, "Huh..Nggak boleh orang lagi seneng gangguin aja", gerutu Priscilla dalam hati sambil beranjak membuka pintu.
" Anu non, ada temennya nunggu dibawah" kata si mbok "Siapa bik ?" tanya Priscilla "Nggak tau bibik belum nanyain, non" " ya sudah, tunggu sebentar gitu!, Priscilla ganti pakaian dulu ".
Priscilla keluar dari kamarnya dengan langkah malas-malas "Siapa sih malam-malam begini datang, nggak tau kali gua lagi BT " gerutunya, sampai di tangga Priscilla mengintip keruang tamu "Ya Tuhan ,….Pras!", serunya dalam hati, kaget melihat tamu yang duduk percis menghadap kearahnya itu.
"Mau ngapain dia da….., oh ya Tuhan apakah dia datang untukku atau..", "non kok malah berdiri disini sich?", tiba-tiba si mbok sudah berdiri di depannya "eh..nggak bik ", jawab Priscilla sambil berjalan turun menuju ruang tamu.
"Hai..!, tumben datang kesini ?" tanya Priscilla basa basi "Ya Tuhan berilah aku kekuatan" gumannya dalam hati "Ah…nggak ada apa-apa kok cuman main saja, Nggak mengganggukan?" kata Pras balik bertanya, "Huh makin keren aja nich anak mana rambutnya di iket kebelakang lagi, makin percis pemain film Renegade itu",ujar Priscilla dalam hati.
"Hallo…ditanya kok malah melamun gitu sich !" seru Pras sambil mengibaskan tangan kirinya di depan wajah Priscilla "eh..anu, apa tadi pertanyaannya?"kata Priscilla panik ketahuan bahwa dirinya sedang melamun "nggak mengganggukan Sil, gua datang kesini?" ulang Pras tentang petanyaannya tadi. Priscilla hanya menggelengkan kepalanya wajahnya merah merona kayak strawbery matang.
Pertamanya, mereka berdua berbicara sangat kaku sekali, namun lama-kelamaan akhirnya obrolan menjadi lancar dan mengalir begitu saja dari bibir mereka, bagaikan aliran sungai Nil di India. Dari obrolan tentang kampus, politik, musik, makanan, sampai nomer sepatu dan nomer baju, yang ngga di omomngin cuman nomor baju dalaman aja.
Priscilla sangat senang sekali ternyata malam minggunya dimulai dari sekarang tidak akan sesunyi dulu. terpancar diwajahnya sinar kegembiraan.
"Sil sebenarnya maksud kedatangan gua ke sini mau eeeeh …."kata Pras terbata-bata "mau apa sich…?", tanya Priscilla penasaran dadanya berdegup kencang keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya, begitu pula dengan Pras "hmmm…anu Sil, tapi lu janji nggak bakalan marah ya" kata Pras sambil mengacungkan kedua jarinya.
"ngapain gua mesti marah, mau apa sich ?, lu jangan membuat gua penasaran gitu donk Pras.." jawab Priscilla, ada nada getar dalam suaranya. Wajahnya kembali berubah-ubah warna kayak bunglon, "ayo dong ngomong …!" "Ok, tapi janji lu nggak bakalan marah" Priscilla menganggukkan kepalanya. "Sil, sebenarnya dari dulu gua tuh…." "byurrrrr…." Tiba-tiba Priscilla meraskan baju nya basah semua tersiram oleh air yang tumpah dari minuman yang di bawa si mbok. "Aduh non maaf nggak sengaja " Priscilla melotot kearah si mbok namun samar- samar terdengar suara Vitria "hoy…b..a..n..g..u..n" dan suara itu makin jelas terdengar "hei.. Bangun udah siang nich.." Priscilla membuka kedua matanya Tampak Vitria sedang tersenyum kegelian, sementara ditangan kanannya terdapat gelas cangkir berisi air putih.
"ayo bangun Udah siang nich!" saru Vitria sambila ketawa "ah sialan lu, ngeganggu mimpi indah gua aja " sungut Priscilla penuh dengan rasa kecewa yang sangat mendalam."habis gua kawatir lu tidur dari tadi ngigau terus sich ya udah gua siram aja pakai air minum biar bangun sekalian" lanjut Vitria sambil terus ketawa "hmm…yang lagi kasmaran, dalam mimpinya pun selalu disebut-sebut”. Priscilla kesal di lemparnya Vitria dengan boneka micky mouse besar "Sialan Lu".
"Waduh, kirain gua, gua kesiangan nih..! "ujar Ryan dan Darma hampir bersamaan, lalu keduanya menghempaskan diri di kursi ,"Emang lu pada, habis dari mana dulu sich ?, sampai ngos-ngosan gitu" tanya Vitria "Biasa, musisi mah mesti banyak kegiatan, belum lagi fans yang ngejar-ngejar gua" kata Darma kalem,"Musisi nyasar kali" sela Priscilla.
"Hai.., Pras sini !" seru Ryan, "Busyet dah, kemana aja sih lu, gua cari-cari kemana-mana 'nggak ada, kayak ajudan presiden aja lu ? " tanya Ryan "Sorry Ryan, gua baru pulang dari Yogyakarta nenek gua sakit."jawab Pras, "Tadinya gua cuman tiga hari disana, tapi temen gua waktu kecil, ngajak jalan-jalan dulu ya udah, gua 'nggak bisa nolak" " 'nggak masalahnya bukan gua aja yang nyariin elu, Pras. Tuh si Priscilla juga nyariin elu, bener 'nggak Sil..?" Priscilla salah tingkah mendengar ucapan Ryan tadi, wajahnya kembali berubah-ubah warna kayak bunglon, Untung si Ryan sama si Darma 'nggak memperhatikan perubahan warna di wajah Priscilla, kalo mereka ngelihat wah bisa abis deh Sisil diledekin, " Aah, Bisa aja lu" ujar Pras, Ryan dan Darma hanya nyengir saja "Udah ah, tinggal dulu, gua pingin buang air kecil mumpung si bapaknya belum datang".
"He..Ryan lu tau dari mana ?" tanya Vitria, setelah Pras pergi "Tau apaan, tahu tempe, banyak tuh ditukang sayur"Jawab Ryan seenaknya, "Anu, lu kok tau kalo si Sisil nanyain si Pras?" "Hah, Apa?, Jadi lu…Ha.ha.ha" Ryan 'nggak melanjutkan kalimatnya "Wah, bakal seru nich..!" seru Darma sambil tertawa kencang "Gosip baru….Gosip baru" ujar Darma dan Ryan sambil beranjak pergi.
"Waduh mati gua deh, lu kenapa bilang sama dua coro itu sich, Ria" Kata Priscilla kesal, baginya hal ini apabila sudah diketahui dua mahluk yang hiperaktiv itu merupakan kiamat bagi hidupnya, bagaimana tidak siapa yang 'nggak kenal sama dua makhluk yang namanya Ryan dan Darma itu. Sepak terjangnya di dunia keusilan sudah nggak tertandingi oleh siapapun.
"Sorry Sil, Sorry, gua kira si Ryan sama si Darma udah tau kalo lu suka sama si Pras " Ujar Ria merasa bersalah, "lagian ngapain gua ngasih tau mereka berdua, itu namanya bunuh diri, Ria…bunuh diri…,oh apa kata dunia kalo seluruh orang tau bahwa Priscilla Puspita Sari, putri seorang pengusaha tempe, menyukai Pras musisi kelas yang……." "Ha..ha.. jadi bener lu suka sama si Pras" tiba-tiba Darma nongol 'nggak tau datangnya dari mana, sampai-sampai wajah Sisil berubah-ubah warna kembali layaknya bunglon.
"Santai Sil, santai gua berdua janji 'nggak akan ngomong ke si Pras kalo lu suka sama dia, pokoknya sebelum gua di suruh sama lu , gua nggak akan ngomong macam-macam dech" ujar Darma "Dan yang pasti elo bakalan gua dukung penuh, Sil…hmm maksud gua ya sampai lu jadian sama dia tapi, gua nggak janji muluk-muluk loh, itu juga kalo bisa, dan yang pasti segala sesuatu itu mesti ada imbalannya deh, nah gua nggak minta macam-macam cukup baso tahu kegemaran gua sama si Ryan di kantin Ok..!", lanjut Darma panjang lebar sambil ngeloyor pergi, Priscilla hanya nyengir kuda dan Vitria nyengir kambing melihat kedua makhluk itu pergi.
Hari demi hari telah berlalu, minggu ke minggu datang silih berganti perasaan Priscilla terhadap Pras semakin menggebu-gebu dan menderu-deru layaknya deru ombak di lautan. Memang Ryan dan Darma masih menepati janjinya untuk tidak mengatakan pada Pras bahwa dirinya suka padanya, tapi kejadiannya lebih parah lagi hampir setiap orang dikelasnya mengetahuinya sampai-sampai Yanyan sipendiam ngomong "Iih, Priscilla ternyata kamu ada kemajuan yach, ceritain donk ke Yanyan kejadiannya, sampai Sisil jatuh bangun membanting tulang, kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala …akrobat kali..hi..hi..hi, lalu kepincut sama si Pras !" seru Yanyan sambil ketawa cekikikan. Makin aja Priscilla sebel pada mereka berdua. Tapi yang membuat Priscilla aneh, kok Pras belum tau juga padahal seisi kelas sudah hampir tau semua, untuk urusan yang satu ini Priscilla salut pada dua makhluk itu.
"Hayo…ngelamun aja!" tiba-tiba Vitria nongol dibelakangnya "sialan lu, ngagetin gua aja" "Habis dari tadi gua ketuk-ketuk pintu kamar 'nggak ada yang membuka, ya udah gua nyelonong aja masuk, eh taunya tuan putri lagi ngelamun didepan komputer, sambil cengengesan lagi" ujar Vitria, "Gua bukannya lagi melamun non, gua lagi mikirin tugas dari Mr Yayat sikiller dari goa hantu, habis susah banget" bantah Priscilla "Ah, 'nggak mungkin kalo lu lagi mikir Sil, masa mikir sambil cengar-cengir kayak gitu" kata Vitria "Udah 'nggak usah di pikirin, lagian si Pras 'nggak bakalan lari kemana-mana, jadi jerawat batu tau rasa lu" lanjur Vitria sambil menghempaskan tubuhnya keatas kasur "Wah lama-lama lu kayak si dua coro itu, Ria" "Sory..sory, masa gitu aja marah" seru Vitria "Eh, jadi 'nggak pergi ke kost-an si Ryan ?" tanya Vitria "habis gua udah nyerah sama tugas yang satu ini Sil, susah buanget sich" "ya jadi donk, ah" jawab Priscilla "Hm.. sebenarnya gua males pergi kesana Ria, tapi mau apa lagi , kalo 'nggak penting-penting bangetmah mendingan gua di rumah aja…""ngelamunin si Pras" potong Vitria, Priscilla melotot.
"Wah … kalian datangnya kepagian non" seru Ryan, "Gua belum mandi nich, ya udah lu masuk aja gua mandi dulu, Ok 'nggak lama kok" lanjut Ryan " kalo mau kue ambil aja di warung depan tapi jangan lupa di bayar ya, habis rekening gua udah numpuk di si Ibu warung, dan kalo bisa rekening gua tolong lu bayarin, mumpung gua lagi baik nih membuka ladang amal buat kalian", Vitria melotot, Priscilla merem nahan sakit karena kakinya keinjak Vitria.
"Sil, sini deh bentar" ajak Ryan setelah selesai mengerjakan tugas "ada apa ?" "lu jangan marah dulu ya karena ini merupakan kabar gembira buat lu, itu juga kalo lu mau denger" "Boleh, asal lu 'nggak macam-macam gua nggak bakalan marah deh" "Gua udah ngomong sama si Pras …" "Apaaaa.." potong Priscilla "Eit, dengerin dulu. maksud gua, gua udah ngomong ke si Pras kalo dikelas ada yang ngecengin dianya.." "terus ! " seru Vitria ikut nimbrung "Terus dia nanya, siapa. Gua bilang kayaknya elo 'nggak usah tau dulu deh saat ini, masalahnya gua udah keiket kontrak sama yang ngecengin elo" "terus…terus" kata Vitria dan Priscilla bareng "terus terang philip terang terussssss" "sialan lu "protes Priscilla, "sory..sory… terus gua bilang, pokoknya anaknya baik, cakep, pinter, soleh dan yang pasti belum punya pacar. Nah masalahnya gua tinggal minta perintah dari lu, menurut gua sudah saatnya lu terus terang aja dech" "Enak aja dimana-mana cowok donk yang ngomong duluan, mau ditaruh dimana muka gua" kata Priscilla ketus.
"Hei non, dengerin, sekarang udah nggak jamannya lagi yang kayak gituan, kalo cewek suka sama cowok ya tinggal ngomong, apa salahnya, lagian gua perhatiin si Pras itu kayaknya suka juga ama lu, nah tunggu apa lagi, ibaratnya sudah musim hujan cepet tuh sawah lu tanamin padi, supaya nanti musim kemarau bisa di panen" cerocos Ryan panjang lebar.
"Maksud gua kalo tuh sawah nggak lu tanamin padi sekarang, nanti musim kemarau keburu ditanamin palawija artinya ya, mumpung sekarang dia belum punya cewek, siapa tau lu, nanti dianya keburu sama orang" Lanjut Ryan. Priscilla temenung, Vitria bengong sambil mulutnya menganga lebar, nggak percaya apa yang di uacapkan sama si Ryan tadi, kok kayaknya puitis banget
"bisa juga lu ngomong kayak gitu, Ryan" akhirnya Vitria mengeluarkan suara "Gua juga kagak tau, Ria" jawab Ryan bingung, Priscilla masih termenung mendengar ucapan Ryan sampai akhirnya tertidur pulas.
Hari ini kota Bandung teresa sangat panas, padahal dari pagi tadi matahari bersinar dengan malu-malu, "Wuih gila panas banget nich, kayaknya nanti sore bakalan turun hujan gede nich" ujar Ryan "Lu lagi Pras panas-panas gini pake jaket segala, dasar gendeng lu" seru Darma "Panas apaan orang segini dinginnya di bilang panas" protes Pras "Wah, nih orang kayaknya mabok limun nih" lanjut Darma, semua orang yang ngedengerin pada tersenyum simpul kecuali Priscilla senyumnya rada-rada di tahan sampai-sampai ada bunyi di bawah yang mencurigakan untung 'nggak ada yang denger, langsung aja muka Priscilla pucat pasi.
Jam tiga sore anak-anak pada masuk kelas kebetulan hari ini kuliah sore, Priscilla melihat Ryan dan Darma berbisik-bisik sambil melihat kearahnya. "Hmm.. apa yang mereka bisikkan, pasti mereka merencanakan suatu akal bulus, nanti gua harus hati-hati nih" gumam Priscilla pada dirinya sendiri.
"Hai, Priscilla gimana udah lu pertimbangkan saran gua?" tanya Ryan, sambil duduk di samping Priscilla dan Vitria "Saran apa…" "Hai , Pras duduk sini, donk" Potong Ryan sambil menunjuk tempat duduk di samping Priscilla yang masih kosong, muka Priscilla langsung berubah kembali, kali ini 'nggak merah, kuning, ungu tapi putih seputih kapas, siapa duga ternyata akal bulus yang di rencanakan si dua coro itu adalah mengajak Pras untuk duduk tepat di sampingnya. Kontan saja seisi kelas menjadi ramai, ada yang bisik-bisik, ada yang ketawa cekikikan, ada yang hanya senyum-senyum sambil mengulum biji salak dan masih banyak lagi tingkah aneh yang terjadi.
keringat dingin keluar dari seluruh tubuh Priscilla, dan lebih sebalnya lagi si Ryan malah pindah kebelakang. Sepanjang pelajaran itu Priscilla mengutuk semua orang, namun hatinya tetap berbunga-bunga terlihat dari hidungnya yang kembang kempis. "Oh … Pras andai lu tau kalo gua benar-benar sayang sama lu, suka sama lu" ujar Priscilla dalam hati.
"Eh.. Sil pinjem bukunya sebentar donk, gerah nih", tiba-tiba suara Pras membuyarkan semua lamunanya, "Eeh..iya, nih !"kata Priscilla panik, Pras langsung mengkipas-kipaskan buku Priscilla ketubuhnya.
Kembali Priscilla terhanyut dalam lamunannya "Pras, andai lu tau bahwa gua suka buanget sama lu, cinta buanget sama lu" ujar Priscilla dalam hati.
Tiba-tiba Priscilla merasa heran karena makhluk disampingnya sekarang tidak lagi mengkipas-kipaskan buku miliknya lagi melainkan Pras sedang membacanya dengan sangat amat khusu.
"ya Tuhan…" pekik Priscilla tertahan ternyata karena saking paniknya tadi Priscilla memberikan buku coretannya kepada Pras, buku yang berisi ungkapan-ungkapan hatinya terhadap Pras, dan sekarang Pras sedang membacanya dengan sangat khusu, sambil sesekali tersenyum simpul.
Wajah Priscilla pucat pasi keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya, ingin rasanya dia merebut buku yang ada pada cowok itu. Namun keinginan itu hilang sama sekali, keberanian itu hilang sama sekali. "mati gua" gumamnya dalam hati "Apa yang harus gua lakukan, Ya Tuhan Please Tolongin Gua" Jerit Priscilla dalam hati, ingin rasanya dia lari saja keluar, atau kalo bisa memasukkan kepala ke badannya kayak kura-kura, tapi semuanya tidak mungkin dilakukan, kini Priscilla hanya tertunduk pasrah "ya Tuhan kini aku serahkan semuanya kepadamu", bisiknya.
Pras melirik pada Priscilla sambil tersenyum simpul, kemudian dia menulis sesuatu dalam buku itu lalu dikembalikannya buku itu pada Priscilla "Baca.." bisik Pras pada Priscilla. Priscilla membaca tulisan yang tadi ditulis Pras "Gua juga sayang lu, Sil…Gua juga cinta lu, Sil…Gua juga suka sama lu, Sil".
Priscilla masih tersenyum didepan komputernya, rona merah masih tersirat diwajahnya, kali ini tidak sambil duduk melainkan berbaring diatas kasurnya, kalimat yang terakhir yang dibaca dalam komputernya adalah "Gua juga sayang lu, Sil…Gua juga cinta lu, Sil…Gua juga suka sama lu, Sil". Ini adalah yang kesepuluh kalinya Priscilla membaca cerita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar