Rabu, 15 Juni 2011

Manusia Yang Mengaku Sebagai Anjing

Semoga coretan pena kali ini dapat di ambil hikmahnya bagi para pembaca sekalian, sebenarnya malam ini aku ingin menulis sebuah kisah tentang kepemimpinan, namun berhubung kejadiannya masih baru, sehingga aku memutuskan untuk menuliskan kisah yang baru saja aku alami ini… (cerita ini bukan fiktif semata tapi cerita ini bener-bener nyata loh…).

Setelah seharian bekerja aku memutuskan untuk refreshing dulu jalan-jalan dan tidak langsung pulang kerumah, dan memang kebetulan malam ini istri ku kebagian shift siang. Tidak ada kejadian istimewa ketika aku kongkow-kongkow bersenda gurau dengan teman-teman di braga city walk, sebuah mall kecil yang berada di jalan braga Bandung.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul Sembilan malam… “saatnya menjemput istri “ ujarku… Kupacu motor bututku dengan kecepatan yang tentunya pelan sekali (namanya juga motor butut… hehehehe… tapi jangan salah loh butut-butut juga motor bukan sepeda).

Sepanjang jalan kenangan pikiranku menerawang..”hmm dah lama ga nulis nich” pikir ku… banyak sekali hal yang melintas dalam pikiranku untuk di jadikan sebuah inspirasi, sampai akhirnya aku putuskan untuk menulis tentang kepemimpinan… (kaga jadi ditulis malam ini hehehehehe).

Akhirnya sampai juga disebuah mall ternama di seantero Bandung tempat dimana istriku bekerja, entah mengapa malam ini banyak sekali motor yang terparkir diluar mall ini, dan sepertinya mereka sama seperti aku, ada yang menjemput istrinya, anaknya atau pacarnya atau bahkan selingkuhannya, entahlah aku malas untuk bertanya kepada mereka hehe…

Disinilah kejadian itu berawal, sedang asiknya melamun sambil melihat aktivitas orang-orang yang sedang menunggu, datang sebuah mobil dari arah belakangku, dengan membunyikan klakson yang sangat keras. 
Aku terperanjat mendengarnya, “aduh, mo kemana nih mobil” ujarku sembari ku dorong motor agak kedepan, namun sang supir tetap saja membunyikan klaksonnya berkali-kali, kudorong lagi motorku kedepan, sampai akhirnya motorku sudah tidak bisa ku dorong lagi kedepan karena sudah mentok dengan motor yang di parkir oleh orang-orang,
 aku menoleh kebelakang “hmm sudah cukup” pikirku melihat posisi mobil yang sudah berada di bahu jalan.
Kembali aku standarkan motor ku dan duduk sambil melamun memandang orang-orang di sekitar ku “ramai sekali orang yang jemput malam ini” pikirku, sekilas aku mendengar sang supir menutup pintu mobilnya.

Tiba-tiba seorang bapak-bapak berusia sekitar 40-50 tahunan berdiri disampingku sambil memaki,  tadinya kupikir dia bukan memaki kepadaku, namun begitu berada didepanku sibapak ternyata melotot ke arahku.

Sebelum meneruskan cerita ini, aku ingin meminta maaf kepada para pembaca sekalian, karena pada lanjutan cerita ini ada beberapa kata yang sangat kasar. 
Tadinya kata-kata kasar tersebut akan aku sensor saja, tapi setelah dipikir-pikir aku ingin mencurahkan semua isi kejadian dengan apa adanya tanpa ada bagian-bagian yang di biaskan, yang akan mengurangi cita dari tulisan ini, dan karena si bapak menggunakan bahasa sunda yang salah dan sesat, maka akan aku coba translet kedalam bahasa Indonesia yang baik dan benar meski tidak sesuai EYD hehehe… karena memang kata-katanya yang kasar.

Baiklah jika pembaca mau memaafkan aku, berikut aku lanjutkan ceritanya …

 “ hei goblok…, teu kudu pake molotot kaing sagala…! (hei goblok…, ga usah pake melotot ke aku segala)” bentak si bapak dengan mulut gemetar… kontan aku terperangah melongo, dan sontak juga orang-orang disekitarku menoleh ke arah kami berdua.

“ada apa pak?” tanyaku polos “sia goblok (kamu goblok), nyaho teu aing teh saha? (tau ga saya tuh siapa)” bentaknya sambil menunjuk dadanya. 

AING TEH ANJING..(AKU TUH ANJING.. (nah loh!!!!)) urang pribumi didieu (orang asli sini)”, "parkir teh nu bener atuh goblog (yang bener parkirnya goblok).. Aing teh Anjing Kahalangan (saya tuh Anjing.. Terhalang)"

sebetulnya aku ingin tertawa melihat si bapak yang tiba-tiba marah kepadaku, pake ngaku bahwa dia Anjing segala lagi… namun demi menghormati orang tua aku hanya terdiam sambil melongo, begitu juga orang-orang di sekitarku. Mungkin ada sekitar 20 kali dia mengaku-ngaku sebagai Anjing (Aing teh Anjing… x 20), 
dan tawaku hampir saja tumpah ketika aku teringat sobatku di kantor ketika sedang menirukan tetangganya yang gaya bicaranya mirip si bapak mengaku-ngaku sebagai Anjing.

Sekitar 3 menit si bapak memaki-maki didepanku, risih juga diliatin orang, tapi jika kulawan berarti sama gilanya pikirku.  Jadi kubiarkan saja dia memaki… bahkan sesekali aku menguap.
Karena merasa tidak ada respon sibapak akhirnya ngeloyor pergi sambil terus berteriak AING TEH  ANJING.

Begitu dia  berbalik kubaca di balik bajunya, dugaanku sibapak merupakan anggota sebuah  community yang entah ternama atau tidak di Bandung ini, namun memang sering kudengar nama community di balik bajunya tersebut. Dan jika sampai tadi aku lawan tuh si bapak bisa-bisa aku yang bonyok, ternyata beberapa meter dari tempatku ada beberapa temannya yang sedang nongkrong.

Tak berapa lama istriku datang menghampiriku… disepanjang perjalanan menuju rumah aku bercerita kepada istriku sambil tak habis pikir  atas tingkah laku si bapak.

Apa hikmah di balik kejadian diatas… ini menurut persi aku loh… jika pembaca punya persi lain dari kejadian diatas silahkan isi di kolom komentar. Hehehehehehe.

Ternyata benar kata pepatah Mulutmu harimau Mu… tanpa sadar dan emosi yang ga pada tempatnya si bapak malah ngaku sebagai Anjing. Hehehehehehe

 T  Berpikir jernih bisa menghindari keributan yang lebih fatal. Jika tadi aku terbawa emosi mungkin sekarang salah satu dari kami sedang terbaring di rumah sakit sereeeemmm.

<!  Jika kita menjadi anggota sebuah comunty, janganlah merasa karena kita seorang anggota bisa berbuat seenaknya… coba bayangkan jika si bapa memaki pada orang yang ternyata sedang memegang senjata (teroris ) mati konyol lah dia di Dor hehehehehehe.

Itulah sepenggal cerita yang baru saya alami semoga bermanfaat.
Terimakasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar